Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Tukang Becak dari Madigondo Pergi Umrah

Administrator • Senin, 13 Mei 2019 | 17:47 WIB
Photo
Photo

Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu. Tapi, Allah memampukan orang-orang yang terpangil. Berikut catatan umrah menjelang Ramadan 1440 H yang ditulis Pimpinan Ladima Tour & Travel H SOENARWOTO.


----------------------------------------


MBAH Imam. Begitu para jamaah memanggilnya. Nama lengkapnya Imam Supangat Saikin. Dipanggil mbah, karena sudah sepuh. Umurnya 71 tahun. Pekerjaan Mbah Imam, warga Desa Madigondo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, ini hanya tukang becak.


Dia harus menghidupi ketiga anaknya hingga dewasa. Hidupnya dilakoni dengan mengalir dan penuh syukur. Tanpa keluh kesah dan tetap rajin ibadah. Dia pun suka bersedekah. Memberi uang kepada orang lain memang tak bisa. Mbah Imam hanya menerima uang dari penumpang seikhlasnya. Tak pernah mematok tarif.


Terkadang malah menggratiskan. ‘’Mereka yang naik becak itu belum tentu semua punya uang. Kalau saya pasang tarif, saya khawatir penumpang tidak bisa naik becak. Jadi, saya terima saja berapa pun ongkos yang diberikan,’’ kata Mbah Imam, jamaah Umrah Gemuyu Ladima keberangkatan 27 April 2019.


Meski hanya tukang becak, pada 1985 lalu Mbah Imam termasuk salah seorang penggagas pendirian masjid di lingkungannya. Yakni, Masjid Miftakhul Hudha. Sosok pendiam ini juga ikut membantu dana pembangunannya. Tentu tidak banyak.


Cukup ngopeni kuli bangunannya. Dia selalu menyiapkan makanan, cemilan dan kopi. Mbah Imam juga menyumbangkan tenaganya. Dia menjadi kuli pula tanpa minta bayaran. ‘’Bisanya cuma nyumbang tenaga. Ya itu yang saya lakukan,’’ ujarnya.


Setelah masjid berdiri, Mbah Imam pun terlibat aktif meramaikan dan memakmurkanya. Dia jadi muazin atau pengumandang adzan. Tapi hanya untuk adzan Maghrib, Isyak, dan Subuh. Adzan Subuh yang lebih sering. Sebab, ketika Subuh dia pasti ada di rumah. ‘’Kalau Dzuhur dan Ashar saya tidak bisa ngadzani. Sebab, saya masih di jalanan. Saya masih mbecak. Kerja,’’ ungkapnya dengan nada datar.


Sebagai pengumandang adzan Subuh, Mbah Imam pun dijuluki warga sebagai tukang gugah atau juru membangunkan orang tidur. Mafhum, saat Subuh banyak warga sedang nikmat-nikmatnya mancal kemul. Tidur. Selama Ramadan, Mbah Imam juga selalu tadarus atau baca Alquran di masjid pada malam menjelang sahur.


‘’Yang menghidupkan salat Subuh berjamaah di masjid kami itu, ya Mbah Imam. Jika tak ada Mbah Imam, ya bisa-bisa tidak ada salat Subuh berjamaah di masjid kami. Selama Ramadan, tengah malam menjelang sahur Mbah Imam juga selalu tadarus di masjid,’’ ungkap Sulilo, salah seorang marbot Masjid Miftakhul Hudha Madigondo.


Karena itu, sudah menjadi rejeki Mbah Imam jika dia mendapat hadiah pergi umrah gratis dari Ladima Tour & Travel. Dia memang rajin ibadah. Sejak muda sampai tua ini. Istiqomah. Selama ini dia juga giat mengajak warga sekitar untuk salat berjamaah di masjid.


Susilo pun percaya sabda Rasulullah, bahwa Allah itu tidak akan memanggil orang-orang mampu. Tapi, Allah memampukan orang-orang yang terpanggil. ‘’Siapa sangka Mbah Imam yang hanya tukang becak bisa pergi umrah. Untuk memenuhi hidupnya saja pas-pasan,’’ ungkap Susilo.


Mbah Imam selalu senang dan bahagia selama di Tanah Suci. Rajin salat fardu dan sunah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Juga iktikaf, berzikir, dan bertilawah (baca Alquran). Dia pun jadi imam Masjid Nabawi untuk rombongan jamaah Ladima dalam salat Maghrib jamak takhir dan salat Isyak saat kedatangan di Madinah.


‘’Sebenarnya, sebagai tukang becak bisa menjalankan salat lima waktu dengan tertib dan puasa Ramadan itu sudah sangat cukup. Eh, sekarang saya malah bisa ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah. Ya, Alhamdulillah,’’ ucapnya penuh syukur.*** (sat/bersambung)

Editor : Administrator
#jawa pos #radar madiun #jawa pos radar madiun #berita madiun