Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Perjuangan Endang Besarkan Anaknya hingga Jadi Jenderal Bintang Satu

Administrator • Rabu, 20 Oktober 2021 | 23:13 WIB
Photo
Photo


KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Berkali-kali Endang Sri Ariyantinah menggosok-gosok matanya, mengira apa yang dilihat di layar ponselnya hanya mimpi. Setelah diperhatikan sekali lagi, barulah perempuan itu percaya bahwa pria berbaju loreng dengan topi baret hijau dan berkalung bunga itu Brigjen TNI Yudianto Putrajaya yang tidak lain putranya.





Putra ketiganya itu pada 13 Oktober lalu resmi menyandang predikat jenderal bintang satu. Prosesi pengukuhan digelar di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, dipimpin langsung Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Tak urung, momen tersebut membuat Endang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. ‘’Terharu sekaligus bangga. Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata,’’ ujar Endang, Rabu (20/10).





Perempuan 73 tahun itu pantas bersukacita. Pasalnya, dirinya bersama sang suami membesarkan Putrajaya yang kini menjabat Danrem 102 Panju Panjung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, itu dengan kondisi ekonomi tidak terbilang mapan.





Awalnya, Endang memboyong keluarganya merantau ke Manado di era 1980-an. Untuk menyambung hidup, di sana dia berjualan kain milik kenalannya. Sebagian upah yang didapatkan ditabung. Tiga bulan berselang, uang yang terkumpul lantas digunakan untuk modal berjualan sendiri. ‘’Namanya juga jualan, kadang laku, kadang sepi,’’ kata warga Kelurahan Rejomulyo, Kartoharjo, itu sembari menyebut keluarganya merantau di Manado selama 35 tahun.





Tak hanya itu, berbekal keterampilan dari kursus yang pernah diikutinya saat masih di Kota Madiun, Endang membuka jasa rias pengantin sekaligus kursus. ‘’Juga nyambi bisnis cengkih. Beli mentah, lalu dijemur, setelah kering dijual lagi,’’ kenangnya.





Satu momen yang membuat Endang berlinang air mata adalah saat Putrajaya batal mengikuti upacara HUT RI di Istana Merdeka, Jakarta. Kala itu Putrajaya masih duduk di bangku SMA dan lolos menjadi anggota paskibraka. Namun, sang anak tidak jadi berangkat ke ibu kota karena bukan warga asli Manado. ‘’Karena memang statusnya perantau,’’ ujarnya.





Namun, kenyataan itu tidak membuat Putrajaya patah arang, Pun, keinginannya menjadi anggota TNI tidak luntur. Pria kelahiran 1970 itu akhirnya lolos masuk Akmil dan lulus pada 1993. ‘’Waktu dia resmi menyandang pangkat brigadir jenderal, semalaman saya menangis,’’ ucap Endang. (tr1/c1/isd/her)


Editor : Administrator
##kotamadiun #features #TNI #radarmadiun #jawapos