KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Seorang kakek rebah tengkurap di pembaringan. Dengan cekatan, Dokter Mirza melakukan anestesi rasa nyeri. Setelah ditemukan bagian tulang yang menyebabkan rasa nyeri, lalu ditandainya dengan spidol hitam. Dilanjutkan prosedur intervensi nyeri berupa disinfeksi dengan antiseptik bagian punggung pasien.
Selembar kain merah yang bagian tengahnya berlubang diletakkan pada bagian tubuh yang dikeluhkan. Alat fluoroskopi dinyalakan untuk mendeteksi struktur organ pasien secara langsung. Beberapa kali alat itu dinyalakan, Mirza dan stafnya berlindung di balik papan agar terhindar dari pantulan sinar X yang dipancarkan alat tersebut.
Aktivitas itu rutin dilakoni Mirza sejak bertugas di RSUD dr Soedono Madiun, 2013 silam. Saban harinya rata-rata menangani lima pasien. Keluhannya beragam, mulai nyeri punggung hingga lutut. Perjalanan Mirza menapaki spesialis anestesi subspesialis intervensi nyeri itu panjang dan penuh perjuangan. ’’Klinik nyeri ini kali pertama di Indonesia. Bisa dibilang juga pelopornya,’’ ujar dokter yang beralamat di Jalan Kapten Wiratno, Kejuron, Taman, tersebut, Sabtu (13/11).
Pengoperasian klinik nyeri pada saat kali pertama didirikan masih begitu minim fasilitas. Saat itu, untuk melakukan tindakan intervensi nyeri, dokter dua anak tersebut harus nunut di ruang pulih sadar. Lantaran belum memiliki alat fluoroskopi, dia pun mesti bergantian dengan ruangan yang mempunyai alat tersebut. ‘’Biasanya pemeriksaan menggunakan fluoroskopi dilakukan sore saat alatnya sudah tidak digunakan lagi,’’ tutur suami dari dr Nila kurniasari SpPA (K) itu.
Kala itu, Mirza kerap merasa tak tega saat melihat pasiennya rela menunggu dari pagi demi mendapatkan pelayanannya. Padahal, alatnya baru bisa dipakai sore hari. Itu pula yang mengharuskannya praktik hingga larut malam. ‘’Ultrasound, trolley, hingga kursi tunggu juga tidak ada saat itu. Jadi, saya beli sendiri,’’ kenangnya.
Perjuangannya saat itu terbayar lunas ketika melihat pasiennya sembuh. Dia merasa trenyuh saat pasien itu semakin rajin beribadah lantaran badannya tak merasakan nyeri lagi. ‘’Berdoanya lebih khusyuk,’’ ujarnya.
Setelah diterima di RSUD dr Soedono, Mirza mendaftar ujian di Hongaria untuk mendapatkan sertifikat internasional. Sebelum tes, Mirza diwajibkan melakukan praktik pada jenis keluhan nyeri tertentu dengan jumlah yang ditentukan. ‘’Semisal sudah harus melakukan praktik menangani kasus nyeri kepala sebanyak 50 pasien,’’ urainya.
Setelah memenuhi syarat, barulah berkesempatan mengikuti tes. Ada empat jenis keluhan nyeri yang dijadikan materi dalam tes tersebut. Pun, tiap kasusnya harus tertangani dalam kurun lima belas menit. Perjuangannya selama dua tahun akhirnya membuahkan hasil, gelar internasional pun disandangnya. ‘’Saat tes saya hanya menghabiskan waktu setengah jam,’’ ungkap dokter yang juga menjadi editorial salah satu jurnal di Universitas Brawijaya (UB) itu.
Mirza juga diminta membuat boneka khusus untuk percobaan pengobatan nyeri. Gagasan itu dicetuskan karena dirinya tak ingin menjadikan pasien sebagai percobaan. ‘’Kasihan kalau pasiennya ditusuk-tusuk jarum untuk percobaan. Kini, boneka uji coba itu telah diproduksi sebuah perusahaan,’’ pungkasnya. (tr1/fin/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto