KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Rencana me-regrouping SMPN 1, 3 dan 13 Madiun menjadi satu direspons Wali Kota Madiun Maidi. Dia menerangkan, rencana regrouping itu merupakan sebuah kebutuhan. Mempertimbangkan angka kelahiran pada setiap keluarga kurang dari dua anak.
Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya jumlah siswa. Di sisi lain, jumlah guru berpeluang bertambah di kemudian hari. ‘’Jika satu kelas isinya enam siswa diajar dua guru, cost-nya tentu tinggi. Tapi, jika berisi 20-25 siswa, guru tidak bisa santai,’’ katanya, Jumat (19/11).
Pada tahun pelajaran 2021/2022, terdapat sekitar 9.600 siswa dan 1.600 guru dari 14 SMPN. Maidi tidak memungkiri terdapat ketimpangan jumlah siswa dari ketiga SMPN yang hendak digabung. SMPN 1 dianggap favorit dengan memiliki 760 siswa dan 39 guru.
Wali kota meragukan rencana regrouping melabrak aturan. Dia merujuk pada Undang-Undang 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Regulasi itu mengamanatkan pengelolaan sekolah dasar diserahkan sepenuhnya pada daerah. ‘’Terobosan ini bisa menjadi pilot project untuk meningkatkan kualitas pendidikan,’’ pungkasnya. (kid/c1/cor/her)
Editor : Hengky Ristanto