KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Penyerahan trofi juara I Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-112 dari Dinas Penerangan Angkatan Darat (Dispenad) itu sudah sekitar dua bulan berlalu. Namun, Mayor Arm Nurwahyu Sujatmiko belum bisa melupakan momen tersebut.
Maklum saja, itu merupakan kali ketiga secara berturut-turut satuan yang dipimpinnya berjaya di LKJ TMMD. Pada ajang tahun lalu tersebut, Wahyu –sapaan akrab Nurwahyu Sujatmiko- mengangkat topik sebuah akses jalan di Blitar yang berpotensi memperlancar mobilitas warga. Baik ke sekolah, puskesmas, maupun pasar.
Sebelumnya pada TMMD ke-111 Wahyu mengangkat topik serupa di Magetan. Sebuah akses jalan yang berpotensi menunjang pariwisata daerah setempat. Sedangkan pada TMMD ke-110 di Pacitan tentang potensi Pacitan berupa jalan yang terhubung ke Jawa tengah dan arah pantai. ‘’Jadi, bisa mengangkat potensi pariwisata di sana,’’ ujar kepala penerangan Korem (Kapenrem) 081/DSJ itu, Jumat (7/1).
Sejak kecil Wahyu sudah bercita-cita menjadi tentara. Bermula saat melihat suami seorang guru SD-nya yang merupakan anggota TNI, baru pulang tugas dari Timor Timur (sekarang Timor Leste). Sosoknya yang gagah membuat dirinya ingin mengikuti jejaknya. ‘’Dari situlah saya tertarik jadi prajurit TNI,’’ kenang Wahyu.
Wahyu kecil pun mulai serius mempersiapkan diri. Sejak kelas IV SD, pria yang kini berusia 56 tahun itu membiasakan diri lari-lari ke sawah tanpa alas kaki seusai salat Subuh di masjid. ‘’Dulu, zaman saya, anak-anak sekolah masih jarang yang pakai sepatu,’’ sebutnya.
Selain mengasah kemampuan lari, dia juga melatih kekuatan tangannya menggunakan peranti ala kadarnya. Misalnya, menyirami tanaman tomat di kebun dengan ember penuh air di kedua tangannya. ‘’Dulu dekat rumah ada pohon pepaya kembar. Itu saya manfaatkan jadi tiang restock dengan menambahkan bambu di atasnya untuk pegangan tangan. Kadang juga bergelayutan di pohon,’’ ungkapnya.
Selepas menyelesaikan pendidikan di salah satu SMA di Ponorogo pada 1987 silam, Wahyu mencoba mendaftar Akabri (sekarang Akmil). Namun, kala itu keberuntungan belum berpihak padanya. Sambil menunggu pembukaan pendaftaran selanjutnya, Wahyu mencari kesibukan dengan berbagai kegiatan keagamaan. ‘’Waktu itu saya ikut kursus qiraah, tartil, dan kalau sore mengajar di madrasah diniyah,’’ sebutnya.
Setahun kemudian Wahyu kembali mendaftar Akabri. Namun, lagi-lagi gagal. Kendati demikian, dia tidak patah arang. ‘’Karena tidak lolos, saya lantas merantau ke Jakarta. Ternyata baru sebulan di sana tidak kerasan, akhirnya kembali ke Ponorogo,’’ ujarnya sembari tertawa.
Sampai di terminal Ponorogo hari sudah malam dan tidak ada lagi bus menuju Trenggalek yang melewati rumahnya. Terpaksa dia menunggu pagi untuk naik bus pemberangkatan pertama. ‘’Kemudian saya keluar dari terminal dan lewat di dekat koramil yang letaknya berdekatan. Tanpa sengaja melihat ada pengumuman pendaftaran Secaba AD yang tinggal tiga hari lagi ditutup,’’ bebernya.
Karena waktu pendaftaran sudah mepet, Wahyu lantas berbagi tugas dengan keluarga. ‘’Waktu itu bapak dan adik saya membantu melengkapi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan. Kan banyak syaratnya,’’ kenang pria yang sempat ditugaskan di perbatasan Timor Timur selama 16 bulan itu.
Singkat cerita, Wahyu lolos masuk Secaba. Sejak dilantik pada 1988 dengan menyandang pangkat sersan dua, suami Henny Emilia Yulistiana itu bertugas di berbagai satuan di lingkungan TNI-AD. Mulai Sekolah Arhanud, Sekolah Peluru Kendali, Yon Armed 12/Kostrad, Kodim 0811/Tuban, Kodim 0805/Ngawi, sebelum akhirnya di Korem 081/DSJ. ‘’Semua tempat tugas pastinya mengesankan dan ada tantangan tersendiri,’’ akunya. (irs/isd/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto