HARI ini, 2 September 2022, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tepat berusia 100 tahun atau satu abad. Sejak didirikan Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada 1922 silam, organisasi perguruan pencak silat ini tetap terjaga eksistensinya. Bahkan, kini namanya kian menggema seantero dunia. Bagaimana sejarahnya?
---------------------------------------
KEBERADAAN PSHT tak lepas dari sosok Muhammad Masdan alias Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirdjo atau Eyang Suro. Pada 1903 silam, Eyang Suro, seorang polisi berpangkat mayor, mendirikan sebuah perkumpulan bernama Sedulur Tunggal Kecer. Bersamaan dengan itu juga mendirikan perguruan pencak silat dengan nama Joyo Gendelo Tjipto Muljo.
Berselang belasan tahun kemudian, tepatnya pada 1917, Eyang Suro mendirikan perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati (PSH) di Winongo, Kota Madiun. Sejatinya, nama itu sebagai pengganti perkumpulan Sedulur Tunggal Kecer yang didirikan sebelumnya.
Di mata Eyang Suro, persaudaraan lebih memiliki makna mendalam. Yakni, untuk mengikat rasa persaudaraan antar sesama warga PSH sekaligus membentuk rasa nasionalisme, yang mana saat itu Indonesia tengah dijajah Belanda.
Pada 1922, muncul nama Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Sosok ini adalah pengikut aliran pencak silat PSH. Kala itu, pria yang akrab disapa Eyang Hardjo itu meminta izin kepada Eyang Suro untuk mendirikan perguruan pencak silat dengan aliran SH.
Rencana tersebut dilatarbelakangi keadaan di mana ilmu pencak silat saat itu hanya diajarkan kepada mereka yang berstatus bangsawan. Eyang Hardjo berniat agar ilmu pencak silat juga dapat dipelajari rakyat jelata dan pejuang perintis kemerdekaan. Niat itu disetujui Eyang Suro dengan syarat berganti nama. Alhasil, didirikanlah Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC).
Seiring berjalannya waktu, SH PSC terus berkembang. Hingga pada 1942 mencuat usulan penggantian nama lagi. Adalah Soeratno Soerengpati salah seorang murid Eyang Hardjo yang mengusulkan nama Setia Hati Terate (SHT). Berlanjut pada 1948, perubahan bentuk perguruan menjadi organisasi persaudaraan. Perubahan nama tersebut disepakati dalam kongres yang kali pertama digelar pada 1948.
Kepemimpinan RM Soetomo berjalan delapan tahun. Pada 1956, amanah ketua diambil alih Irsyad Hadi Widagdo. Dalam perjalanannya, PSHT semakin berkembang di bawah kepemimpinan pria yang juga murid Eyang Hardjo itu. PSHT memiliki tambahan materi latihan dengan 90 senam, sebagian jurus pencak silat, jurus belati, dan jurus toya.
Namun, Irsyad hanya dua tahun menjadi ketua PSHT. Sebab, pada 1958 Irsyad harus berpindah tugas profesi ke Bandung, Jawa Barat. Posisi ketua selanjutnya diemban Santoso Kartoatmodjo. Namun, seperti Irsyad, kepemimpinan Santoso juga tidak lama. Pada 1966, pucuk pimpinan PSHT kembali ke RM Soetomo setelah terjadinya pergolakan politik nasional. Di tangan RM Soetomo, PSHT mulai berkembang di sejumlah daerah. Di antaranya, Magetan, Solo, Jogjakarta, Mojokerto, hingga Surabaya.
Kepemimpinan kedua RM Soetomo berlangsung belasan tahun. Pada 1974, ketua PSHT yang berpusat di Madiun dipegang RM Imam Koesoepangat. Imam yang memiliki sebutan Pendhito Wesi Kuning mampu membangun PSHT sebagai perguruan pencak silat yang disegani kala itu. Pun, sebagai tokoh penegak idealisme.
Berselang tiga tahun, PSHT diketuai Badini pada 1977 hingga 1981. Badini adalah seniman yang memberi warna dan senjata pada lambang PSHT yang hingga kini tampak indah.
Pada 1981 ketua umum PSHT dilanjutkan Tarmadji Boedi Harsono. Di era Tarmadji (1981-2014), PSHT berkembang pesat. Saat itu, Tarmadji berduet dengan Imam Koesoepangat. Keduanya merupakan dua serangkai yang membesarkan PSHT hingga memiliki warga hingga belasan juta di seluruh dunia. Pada 1982, PSHT mendirikan Yayasan Setia Hati Terate untuk mengelola kekayaan PSHT.
Setelah kepemimpinan Tarmadji berakhir, ketua umum diamanahkan kepada (Plt) Richard Simorangkir pada 2014, (Plt) Arif Suryono periode 2014-2016, kemudian Muhammad Taufik sebagai ketua 2016-2017. Setelah itu, Moerdjoko HW mengemban ketua umum hingga sekarang. Pun, kepemimpinan Moerdjoko didampingi Issoebijantoro selaku Ketua Dewan PSHT Pusat periode 2017 hingga saat ini. (ggi/c1/sat/adv)
Editor : Hengky Ristanto