KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Puncak peringatan 100 tahun Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kemarin (2/9) berlangsung semarak. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Graha Krida Budaya, Padepokan Agung, Nambangan Kidul, Manguharjo, Kota Madiun.
Diawali pengumpulan air dan tanah dari 354 cabang PSHT seluruh Indonesia di Monumen Satu Abad Terate Emas. Prosesi itu berlangsung pukul 00.00. ‘’Maknanya, keluarga besar PSHT di seluruh Nusantara dapat bersatu dan harmonis,’’ kata Ketua Umum PSHT Pusat Madiun Moerdjoko HW.
Selain itu, lanjut dia, juga sebagai momentum untuk mengingat pendiri dan para pendahulu yang telah berjuang untuk PSHT. Sementara puncak rangkaian acara ditandai dengan peresmian monumen Satu Abad Terate Emas tersebut. ‘’Di usia ke-100 tahun ini PSHT harus senantiasa hadir serta mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara,’’ ujarnya.
Pun, sebagai motivasi untuk tetap menegakkan marwah, ajaran, adat, dan tradisi PSHT secara baik dan benar. Karena itu, harus saling menyayangi dan menghormati. ‘’Tidak hanya kepada keluarga besar PSHT, melainkan juga kepada seluruh masyarakat,’’ tuturnya.
Sesuai visi-misi PSHT, keluarga besar harus mampu menjaga dan menegakkan empat konsensus kebangsaan. Yakni, menjaga Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Undang-Undang Dasar, dan Bhinneka Tunggal Ika. ‘’Ini menjadi komitmen keluarga besar PSHT,’’ tegas Moerdjoko.
Sebab, lanjut Moerdjoko, sosok Ki Hadjar Hardjo Oetomo -pendiri PSHT- merupakan perintis kemerdekaan RI. Satu hal yang diwariskan adalah jiwa patriotisme cinta tanah air, bangsa, dan negara. Pun, berkaca pada 1974, dalam kongres pertama, keluarga besar PSHT telah berikrar. Yakni, jika ada yang mengganggu empat konsensus tersebut, seluruh pendekar PSHT turun berjuang melindungi. ‘’Keluarga besar akan berjuang hingga titik darah penghabisan,’’ jelasnya. (ggi/c1/sat)
Editor : Hengky Ristanto