KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 3 September lalu terus mengundang pro-kontra. Pasalnya, kebijakan itu diambil di tengah proses recovery ekonomi dalam negeri yang belum stabil.
Meski bantuan langsung tunai (BLT) bakal digelontorkan, hal itu dinilai tidak banyak membantu. Beban hidup masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah, tetap berat. ‘’Ibaratnya, dari BLT pendapatan bertambah 5 persen, tapi kenaikan BBM lebih dari 10 persen, kan sama saja. Daya beli masyarakat tetap berat,’’ kata pengamat ekonomi Universitas Merdeka (Unmer) Madiun Muhammad Imron, Jumat (9/9).
Menurut Imron, kenaikan harga BBM berpotensi menimbulkan efek domino lonjakan berbagai barang dan jasa. Karena itu, dia berharap masyarakat pandai-pandai mengatur pengeluaran. ‘’Ada baiknya tidak membeli kebutuhan yang sifatnya tidak mendesak. Di sisi lain, harus pandai mencari sumber penghasilan tambahan juga,’’ ujarnya.
Imron menyebutkan, kenaikan harga BBM hampir pasti bakal diikuti lonjakan inflasi. Sebab, BBM merupakan salah satu komponen utama produksi maupun operasional usaha. ‘’Walaupun diimbangi bantuan, itu belum cukup untuk meng-cover dampak kenaikan harga BBM,’’ tutur wakil rektor IV Unmer Madiun itu. (mg4/c1/isd)
Editor : Hengky Ristanto