KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Pertamina Patra Niaga, subholding komersial dan perdagangan PT Pertamina (Persero), kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Oktober lalu. Namun, hanya untuk BBM nonsubsidi. Yakni, pertamax, pertamax turbo, dexlite, dan Pertamina dex.
Pertamax dari sebelumnya Rp 14.500 turun menjadi Rp 13.900 per liter. Pertamax turbo dari Rp 15.900 turun menjadi Rp 14.950. Sedangkan dexlite naik dari Rp 17.100 menjadi Rp 17.800 per liter. Pun, Pertamina dex naik menjadi Rp 18.100 dari Rp 17.400.
‘’Harga BBM nonsubsidi akan terus disesuaikan mengikuti tren harga rata-rata publikasi minyak yakni Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus,’’ kata Irto Ginting, corporate secretary Pertamina Patra Niaga, Jumat (7/10).
Evaluasi dan penyesuaian harga ini akan dilakukan berkala setiap bulan. Penetapan harga diatur dalam Kepmen ESDM No. 62/K/12/MEM/2020 tentang Formulasi Harga Jual Bahan Bakar Umum (JBU) atau BBM Nonsubsidi. ‘’Pertamina juga berkomitmen menyediakan produk dengan kualitas yang terjamin dengan harga kompetitif di seluruh wilayah Indonesia,’’ imbuhnya.
Section Head Communication Patra Niaga Jatimbalinus Arya Yusa Dwicandra menambahkan, dengan penurunan harga ini diharapkan masyarakat lebih cermat memilih BBM untuk kendaraan pribadinya. Yakni, memahami spek yang sesuai dengan mesin kendaraan. ‘’Jangan sampai kesalahan memilih mengakibatkan penggunaan BBM semakin boros atau kerusakan mesin di kemudian hari,’’ ujarnya.
Kendati demikian, konsumen lebih memilih pertalite. Sebab, jenis BBM bersubsidi itu harganya paling murah. Namun, pengelola SPBU Jalan Diponegoro (Joyo) Munaji mengklain bahwa permintaan pertamax juga mulai bertambah sejak turun harga. ‘’Dulu, waktu harga naik, sehari habis satu ton (1.000 liter, Red). Tapi, sejak turun, penjualan sehari bisa tembus dua ton lebih,’’ ungkapnya. (mg4/c1/sat)
Editor : Hengky Ristanto