KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya penanganan stunting di Kota Madiun kian dimantapkan. Dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (dinkes PPKB) setempat telah mendata sasaran penerima bantuan kebutuhan gizi.
Mulai bayi di bawah lima tahun (balita) hingga ibu hamil (bumil). ‘’Sasaran 922 jiwa tersebar di seluruh kelurahan dari tiga kecamatan. Tinggal pelaksanaannya yang akan kami segerakan,’’ kata Kepala Dinkes PPKB Kota Madiun Denik Wuryani, Jumat (14/10).
Denik memerinci, total sasaran terdiri dari 514 balita dan 408 bumil. Seluruhnya akan menerima tiga program bantuan Warung Stop Stunting (WSS) dalam bentuk voucher. Mulai voucher kebutuhan pokok atau bahan mentah, makanan siap saji, dan belanja di UMKM. ‘’Untuk voucher balita dan bumil nilai nominalnya berbeda. Lebih banyak bumil,’’ ujarnya.
Untuk seorang balita, mendapat voucher bahan mentah senilai Rp 374 ribu per pekan. Sedangkan bumil menerima voucher Rp 386 ribu per pekan. Jenis kebutuhan pokok akan ditentukan tim dinkes PPKB dengan menyesuaikan kebutuhan gizi.
Voucher makanan siap saji Rp 36 ribu sepekan untuk masing-masing sasaran. Lalu, voucher belanja Rp 50 ribu dapat dibelanjakan di lapak UMKM.
Voucher tersebut dapat ditukarkan di WSS dengan jadwal yang telah ditentukan kelompok masyarakat (pokmas) kelurahan selaku pelaksana. Untuk bahan pokok dan menu makanan siap saji, tim kesehatan dinkes PPKB yang menentukan dengan melibatkan dokter spesialis ahli gizi.
‘’Untuk voucher belanja UMKM, dilarang dibelikan rokok atau makanan yang mengandung MSG (monosodium glutamat),’’ tegasnya.
Denik menambahkan, upaya menekan angka anak dengan gangguan tumbuh kembang itu menunjukkan progres positif. Jumlah balita kekurangan gizi kronis berhasil direduksi. Berdasarkan data terbaru, jumlah stunting di Kota Madiun 512 jiwa. Alias berkurang 155 dari sebelumnya 667 jiwa.
‘’Angka stunting sudah turun. Sehingga, upaya penanganan ini perlu semakin dioptimalkan,’’ ungkapnya.
Pun, bumil harus mendapat perhatian lebih soal kecukupan gizinya. Yakni, mulai usia kandungan lima bulan hingga melahirkan. Sebab, stunting terjadi akibat kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan serta pada masa awal setelah lahir. Namun, stunting baru terdeteksi ketika anak menginjak usia sekitar dua tahun ke atas.
‘’Justru ketika masih dalam kandungan kebutuhan gizi harus tercukupi. Sehingga, lahir dengan kondisi sehat,’’ jelasnya. (ggi/c1/sat)
Editor : Hengky Ristanto