KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot serius menekan stunting di Kota Madiun. Ikhtiar yang dilakukan selama ini menunjukkan progres positif. Jumlah balita yang mengalami gangguan tumbuh kembang berhasil direduksi. Kini, jumlah stunting di Kota Madiun tinggal 512 anak. Berkurang 155 dari jumlah sebelumnya 667 jiwa.
Wali Kota Madiun Maidi menjelaskan terobosan program ini diwujudkan dengan mendirikan Warung Stop Stunting (WSS) di seluruh kelurahan di Kota Pendekar. Demi menyukseskan WSS, pemkot menyiapkan anggaran Rp 5,4 miliar. ‘’Kebutuhan gizi anak-anak kami cukupi. WSS sudah jalan, Insya Allah upaya ini dapat mengurai masalah stunting,’’ tuturnya, Sabtu (15/10).
Tak hanya berfokus pada tumbuh kembang anak, pemkot juga mencukupi kebutuhan gizi ibu hamil. Mulai usia kandungan lima bulan hingga melahirkan. Sebab, stunting terjadi akibat kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan hingga setelah lahir.
Kendati, baru terdeteksi dengan jelas ketika balita menginjak usia dua tahun ke atas. ‘’Sasaran WSS kami beri voucher untuk ditukarkan bahan pokok, vitamin, susu dan sayuran,’’ ujarnya.
WSS menyasar sekitar 922 jiwa yang terdiri dari anak dan ibu hamil di Kota Madiun. Perinciannya, 256 jiwa di Manguharjo, 365 di Taman, dan 281 di Kartoharjo (selengkapnya lihat grafis). ‘’Angka stunting terus kami tekan agar anak-anak di kota ini selalu sehat dan pintar,’’ tegasnya.
Selain mencukupi kebutuhan pokok dan sayuran, sasaran WSS juga dibekali konsumsi makanan siap saji, asupan protein hingga uang saku belanja di lapak UMKM. Pemkot juga memberikan subsidi harga ikan di pasar tradisional bagi ibu hamil atau ibu yang tercatat memiliki balita.
Ikan memiliki kandungan protein tinggi jika dikonsumsi dapat membantu perkembangan otak dan sistem saraf. ‘’Kalau anak-anak kekurangan protein, kecerdasannya akan kurang. Maka pola-pola pemenuhan gizi harus dilakukan,’’ tuturnya. (ggi/prog/fin)
Editor : Hengky Ristanto