Pelestarian kesenian tersebut di Pandean dimotori oleh sanggar Setyo Budoyo. Sejak 1980, Pandean sudah dikenal sebagai pusatnya pertunjukan wayang orang. Bayu Sanjoyo, sosok di balik Setyo Budoyo, berusaha menjaga predikat itu sampai sekarang. ‘’Kami ingin agar wayang orang bisa terus bertahan,’’ ujarnya.
Menurut Bayu, kesenian wayang orang kini menghadapi sejumlah tantangan. Pemain wayang orang harus bisa menari dan bernyanyi. Orang dengan keahlian tersebut tentu kini semakin langka. Terlebih, wayang orang butuh banyak pemain. ‘’Sekali pentas butuh 15 pemain. Itu belum termasuk penabuh, dalang dan lain-lain,’’ kata Bayu.
Lurah Pandean Wahyu Puspitosari berharap wayang orang terus lestari di kelurahan yang dia pimpin. Dia mengajak para generasi muda untuk belajar kesenian tersebut. ‘’Generasi muda harus ikut mencintai wayang orang, karena merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah,’’ tuturnya. (tr2/naz) Editor : Hengky Ristanto