‘’Pemenuhan gizi bumil penting untuk perkembangan janin dalam kandungan sehingga kelak tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar,’’ ujar Wali Kota Madiun Maidi.
Maidi menyebutkan, pemenuhan gizi anak dan bumil juga dilakukan lewat Warung Stop Stunting (WSS) yang digelar sepekan sekali. Yakni, berupa voucher bumil Rp 386 ribu per pekan.
Kemudian, voucher makanan siap saji Rp 36 ribu dan voucher belanja di lapak UMKM senilai Rp 50 ribu per pekan. ‘’Balita juga mendapat voucher Rp 374 ribu, termasuk voucher makanan siap saji dan belanja di lapak UMKM,’’ sebutnya.
Maidi mengklaim, berbagai program itu terbukti efektif menekan angka anak stunting. Berdasarkan data terbaru, jumlah anak stunting di Kota Madiun hanya 512 jiwa. Angka tersebut berkurang 155 dari jumlah sebelumnya sebanyak 667 jiwa. ‘’WSS ada di setiap kelurahan,’’ ujarnya.
Dia memaparkan, ada 922 jiwa yang terdiri anak dan bumil menjadi sasaran program WSS. Perinciannya, 256 di Manguharjo, 365 di Taman, dan 281 di Kartoharjo. ‘’Angka anak stunting akan terus kami tekan. Anak Kota Madiun harus sehat dan pintar,’’ tegasnya.
Selain mencukupi kebutuhan pokok dan sayuran, konsumsi makanan siap saji hingga uang saku belanja di lapak UMKM juga diberikan. Pun, asupan protein dimaksimalkan. Terbaru, pemkot memberikan subsidi harga ikan di pasar tradisional untuk bumil dan ibu yang memiliki balita.
Terkait pengawasannya, kata Maidi, disiagakan petugas dinas perdagangan (disdag) setempat. ‘’Kalau anak-anak kekurangan protein, kecerdasannya akan kurang. Maka dari itu, pola-pola pemenuhan gizi terbaik harus dilakukan,’’ tuturnya. (ggi/isd) Editor : Hengky Ristanto