‘’Tujuh kios yang ada sudah kami penuhi semua,’’ kata Imam Kasmadi, wakil ketua Paguyuban Mbatik, Jumat (2/12).
Sejak awal revitalisasi, mereka sering koordinasi dengan pemkot untuk segera menempati kios di dalam pasar yang populer dengan sebutan Pasar Templek tersebut. Sebab, pasar khusus barang antik di Jawa Timur, sejauh ini hanya ada satu. Yakni, di Surabaya.
Sehingga, mereka pun tak sabar segera membuka pasar barang antik pertama di Madiun Raya ini. Soft opening dilaksanakan 1 Oktober silam.
‘’Rencananya 17 kios yang akan dibangun. Tapi, sementara ini tujuh kios yang sudah jadi. Kios-kios ini kami gunakan dulu dan kami lakukan pembukaan kecil-kecilan,’’ ujarnya.
Menurut Imam, keberadaan pasar barang antik ini mampu mengangkat perekonomian anggota Paguyuban Mbatik. Pasalnya, sebelumnya jual-beli dilakukan door-to-door. Saat ini, masyarakat bisa langsung ke Pasar Templek.
Pihaknya mengonsep tujuh kios dikelola keroyokan anggota paguyuban. ‘’Satu kios untuk 3-5 anggota. Sebab, paguyuban ini ada 35 anggota. Kami bagi rata, termasuk giliran menjaga kios,’’ tuturnya.
Fasilitas baru untuk paguyuban Mbatik ini diharapkan semakin meningkatkan perekonomian pedagang maupun daerah. Pun, koleksi barang antik tidak hanya bisa dilihat melalui gambar.
‘’Melalui tangan para kolektor barang antik ini, masyarakat Kota Madiun atau wisatawan dari luar daerah bisa melihat langsung barang zaman dahulu (jadul),’’ jelasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto