Satino, misalnya. Pria itu sejak Kamis lalu (29/12) membuka lapak di sekitar Pasar Srijaya, Kelurahan Oro-oro Ombo, Kartoharjo. Dagangannya pun terbilang laris terjual. Dalam sehari dia mampu menjual sekitar 20-30 terompet.
‘’Tapi, masih jauh dibanding sebelum pandemi. Waktu itu sehari bisa laku sampai 50,’’ ujarnya, Jumat (30/12).
Satino membanderol terompet dagangannya dengan harga bervariasi. Model biasa Rp 10 ribu per biji. Sedangkan yang berbentuk naga Rp 20 ribu-Rp 30 ribu. ‘’Omzet selama tiga hari ini sekitar Rp 1 juta. Alhamdulillah,’’ ungkapnya.
Dia menyebutkan, terompet yang dijual kali ini seluruhnya merupakan buatan sendiri. Pun, sebagian masih berupa bahan mentah saat Satino hendak menuju Kota Madiun dari daerah asalnya. Dia mengerjakan pembuatan terompet sambil berjualan.
‘’Sudah tujuh tahun saya jualan terompet. Di luar musim tahun baru, sehari-hari bertani,’’ pungkasnya. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto