‘’Awalnya sekadar ingin mengisi waktu luang sebagai ibu rumah tangga. Tapi seiring waktu, ternyata menjanjikan,’’ ujar Lusi, Minggu (8/1).
Yang menarik, Lusi hanya mempelajari cara pembuatan keripik tempe dari lingkungan sekitar. Dengan bekal uang dan ilmu yang cukup terbatas, Lusi waktu itu memberanikan diri merintis usaha. ‘’Awalnya hanya usaha kecil-kecilan,’’ kenangnya.
Berkat kesungguhannya, bisnis Lusi terus berkembang. Kini, setiap hari dia menghabiskan 2,5 sampai 3 kilogram kedelai untuk membuat keripik tempe. Keripik tempe yang dihasilkan 80 hingga 100 kemasan.
Per kemasan (isi delapan lembar keripik) dihargai Rp 5.500. Omzetnya kini tembus Rp 5 juta per bulan. ‘’Selalu dipesan habis, tidak pernah sisa,’’ kata Lusi.
Lurah Kelun Siti Karlinah mengatakan, bisnis keripik tempe di wilayahnya punya potensi yang cukup besar untuk berkembang. Lantaran konsisten terus berproduksi, alhasil usaha keripik tempe yang dijalankan Lusi lambat laun mulai menemukan pangsa pasarnya.
Pun dengan para pengusaha yang lain. ‘’Di Kelun, ada sekitar 62 pengusaha tempe. Hampir 50 persen warganya berpenghasilan dari industri rumahan ini,’’ terangnya. (tr2/naz) Editor : Hengky Ristanto