Andrik Suprianto, pemerhati sejarah dari Historia van Madioen (HvM) menyebutkan, Kelenteng Hwie Ing Kiong dibangun pada 1887. Awalnya, tempat peribadatan umat Tri Dharma itu berada di tepi Kali Madiun.
‘’Kemudian, ada kejadian penting yang membuat kelenteng dipindah ke Jalan Cokroaminoto,’’ ujarnya, Kamis (19/1).
Peristiwa penting tersebut, lanjut Andrik, terkait sakit keras yang dialami istri Tan Soen Yong, residen I Madiun kala itu. Berbagai macam pengobatan telah dilakukan. Namun, penyakitnya tak kunjung sembuh.
‘’Akhirnya dokter menyarankan menjalani pengobatan di Belanda. Tapi, karena keterbatasan waktu terpaksa tidak dijalankan,’’ ungkapnya.
Kemudian, ketua masyarakat Tionghoa di Kota Madiun kala itu yang bernama Liem Koen Tie menawarkan diri menyembuhkan sang istri residen I tersebut. ‘’Diobati dengan ramuan hasil racikan sendiri. Tidak disangka, ternyata sembuh,’’ imbuh Andrik.
Sebagai bentuk apresiasi, sang residen I lantas menghadiahi Liem Koen Tie sebidang tanah di Jalan Cokroaminoto. Lahan itu, kata Andrik, kemudian dijadikan lokasi pemindahan Kelenteng TTID Hwie Ing Kiong yang semula berada tepi Kali Madiun.
Dia menyebutkan, butuh waktu 10 tahun -dari 1887 hingga 1897- untuk menyelesaikan pembangunan kelenteng di Jalan Cokroaminoto. Pembangunan tempat ibadah itu dibantu ayah kapten China di Kota Madiun bernama Njoo Kie Song.
‘’Kayu dan beberapa material lainnya didatangkan langsung dari Tiongkok. Di dalam kelenteng itu juga terdapat keramik asal Belanda sumbangan Tan Soen Yong,’’ tuturnya. (mg4/isd/bersambung) Editor : Hengky Ristanto