Bambang Setyo Prasongko, ayah GA, menuturkan, sebelum nahas itu, anak gadisnya izin mengantar pakaian ke laundry di ujung gang rumahnya. Setelah itu, GA bertemu dan memboncengkan temannya di depan pintu masuk Jalan Kriya Mulya, Rejomulyo. ‘’Saya pikir ke panti asuhan. Sebab, GA memang suka berbagi di panti asuhan,’’ katanya kemarin (31/1).
GA memboncengkan teman yang tidak diketahui identitasnya itu dengan sepeda motor Honda Vario AE 5846 DL. Motor itu biasa dipakai mendorong gerobak dagangan adiknya. Hingga Sabtu (28/1), chat ke nomor WhatsApp (WA) GA hanya centang satu. ‘’Saya kirim pesan kalau motornya akan digunakan adiknya mengangkut gerobak untuk jualan jenang,’’ ujarnya.
GA merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kesehariannya, bermain trading (jual-beli online) di rumah. Sehingga, tak lagi akrab dengan teman-temannya. Pun, sejak semua temannya menikah, GA sering menghabiskan waktu di rumah. ‘’Dia itu sering nyenengin keluarga di rumah. Kalau dapat rezeki selalu mengajak keluarga makan bersama,’’ kenangnya.
Selama dua hari GA tak pulang, Bambang juga tidak terlalu khawatir. Mengingat usianya sudah dewasa. Keluarga yakin GA masih bermain di rumah teman atau saudara di sekitaran Madiun. ‘’Yakin-yakin saja awalnya kalau anak ini main. Saya juga gak melapor ke polisi. Saking yakinnya,’’ ungkapnya.
Minggu (29/1), petugas Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kota Madiun mencari alamat GA dan bertemu ibunya. Begitu mendapat informasi GA ditemukan meninggal dunia di Gunung Lawu, ibunya langsung pingsan. ‘’Saya baru tahu karena istri saya pingsan itu,’’ sebut Bambang.
Setelah itu, Bambang bersama petugas BPBD langsung berangkat ke Karanganyar, Jawa Tengah. Mereka lantas menunggu evakuasi jenazah GA di basecamp atau pintu masuk jalur pendakian ke puncak Lawu di Cemoro Kandang. ‘’Ini pertama kalinya GA mendaki gunung,’’ sambungnya.
Di mata keluarganya, alumnus IKIP Budi Utomo ini sangat berarti. Sikap sosial dan kerja kerasnya mencari rezeki sangat tinggi. Bahkan, GA meninggalkan sebuah tas berisi uang dan beberapa ATM di kamarnya. ‘’Saya baru tahu kalau dia bisa mengumpulkan uang sebanyak ini meski di rumah saja. Hingga saat ini, yang belum bisa menerima kepergiannya adalah adiknya,’’ pungkasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto