Anang menjelaskan, sepanjang Januari-Februari lalu pihaknya sedikitnya 28 kali menangani hewan liar. Perinciannya, 14 penanganan ular, 13 sarang tawon, dan satu biawak. ‘’Warga yang mendapati ada hewan berbahaya masuk rumah segera melapor ke kami. Jika tidak punya keterampilan khusus sebaiknya tidak mencoba melakukan penanganan sendiri,’’ pintanya.
Dia menyebutkan, angka 28 penanganan hewan liar tersebut nyaris dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Kala itu, lanjut Anang, pihaknya hanya mendapati 17 kasus. ‘’Kebanyakan ular dan tawon vespa,’’ ungkapnya.
Anang menambahkan, ular kini mulai jarang ditemui di habitat aslinya sekitar area persawahan. Melainkan kerap ditemukan di lingkungan permukiman warga perkotaan. ‘’Soalnya, sekarang di wilayah permukiman banyak tikus,’’ sebutnya. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto