Dalam kesempatan tersebut, para duta literasi yang masih berstatus pelajar SMP itu diberikan penjelasan mengenai bagaimana awal Kota Madiun terbentuk berikut bangunan dan para pemimpin terdahulu.
‘’Setelah ini, mereka diharuskan menulis apa saja yang didapatkan dari lawatan sejarah itu,’’ kata Kabid Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun Satriyo Priyo Handoko.
Dalam proses penulisannya, kata dia, mereka akan dibimbing oleh seorang penulis. Sehingga, karya yang dihasilkan terkesan otentik. ‘’Hasil karya mereka kemudian akan dibubukan menjadi arsip di dinas perpustakaan dan kearsipan,’’ ungkap mantan kepala Bapenda tersebut.
Adjar Putro Dewantoro yang menjadi pendamping lawatan sejarah itu menambahkan, kegiatan tersebut sebagai bentuk pengenalan cagar budaya kepada para duta literasi. Pun, mereka juga diajak memainkan permainan tradisional. Seperti macan-macanan, boyo-boyoan, dan bola bekel.
‘’Permainan ini sudah hampir punah. Terbukti, saat kami kenalkan ke para duta literasi banyak yang kurang paham. Ke depannya, mereka akan kami jadikan juga sebagai agen edukasi sejarah di sekolahnya masing-masing,’’ terang Adjar. (mg4/her) Editor : Hengky Ristanto