KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kota Madiun belum bebas dari bayang-bayang stunting. Meski begitu, angka kasus stunting terus terjun bebas hingga saat ini. Pada 2021 lalu, prevalensi stunting Kota Madiun berada di angka 12,4 persen. Sedangkan, pada 2022, angka prevalensinya turun menjadi 9,7 persen.
Wali Kota Madiun Maidi mengatakan, angka itu sebenarnya sudah berada di bawah target pemerintah pusat. Yakni 14 persen di 2024. Meski begitu, pemkot tidak ingin sekedar mencapai target pusat. Angka terus ditekan. Berbagai program pun disiapkan. ‘’Kita ada warung stop stunting (WSS) dan pengawasan kesehatan ibu hamil,’’ katanya kemarin (26/6).
Selain itu, dia berencana menggelar lomba bagi orang tua anak yang mengalami stunting. Mereka yang mampu mengantarkan anaknya lepas dari status stunting bakal diberi hadiah. Ide tersebut telah disampaikan ke dinas kesehatan, pengendalian penduduk dan keluarga berencana (Dinkes-PPKB) untuk dibuatkan konsepnya. ‘’Insya Allah dalam waktu dekat akan kami lombakan di Pasar Besar Madiun,’’ ujar mantan Sekda Kota Madiun itu.
Maidi menambahkan, pihaknya juga telah membentuk tim untuk memantau ibu hamil. Karena stunting memang bisa diakibatkan dari saat kehamilan. Pemkot setidaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5,4 miliar untuk penanganan stunting tersebut. ‘’Dengan keseriusan ini, target zero srtunting tahun depan diharapkan bisa terkejar,’’ tandasnya. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani