KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Problem klasik seperti tergenangnya sejumlah ruas jalan di Kota Madiun ketika musim penghujan diurai. Saluran air yang berada di Jalan Campur Sari, Nias, Merapi, Aneka Sari, Tawang Asri, Brantas–Sleko, Gajah Mada dan kawasan perumahan Widodo Kencono dinormalisasi.
Pengerukan sedimen di saluran drainase itu dikerjakan secara manual dan menggunakan alat berat. ‘’Pengerukan saluran air dilakukan saat terjadi penumpukan sedimen dan mulai tumbuhnya tanaman liar,’’ kata Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Madiun Suyanto kemarin (2/7).
Durasi pengerjaan, lanjut dia, bergantung pada lebar dan panjang saluran. Rata-rata panjangnya sekitar 100–150 meter. Pun, pengerukan sudah berlangsung sebulan. Dan, diharapkan selesai pada Agustus. ‘’Sampai dengan saat ini progresnya sudah menyentuh 50–70 persen,’’ ungkap Suyanto.
Pengerukan bertujuan untuk beberapa hal. Di antaranya, agar aliran saluran air dari kawasan hulu menuju hilir tetap lancar. Kemudian, meminimalkan genangan air saat musim hujan. Lalu, untuk estetika serta penerapan penyehatan lingkungan kawasan permukiman tersebut. ‘’Rata-rata saluran itu sudah mengalami sedimentasi setinggi 15–50 sentimeter,’’ ungkapnya.
Menurut Suyanto, pengerjaan normalisasi saluran dilakukan lebih intens ketika kemarau jika dibandingkan dengan saat musim hujan. Karena secara teknis pelaksanaan pengerukan lebih mudah saat musim kemarau. ‘’Dari delapan titik normalisasi (saluran air), mayoritas melanjutkan normalisasi tahun lalu,’’ ujarnya.
Untuk pengerjaan normalisasi ini, DPUPR menggelontorkan anggaran tidak sedikit. Rata-rata per titik menghabiskan anggaran sekitar Rp 190 jutaan. ‘’Karena anggarannya di bawah Rp 200 juta, jadi pelaksanaannya melalui (mekanisme) penunjukan langsung,’’ jelas Suyanto. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani