KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pelajar di Kota Madiun menjalani skrining dampak rokok kemarin (13/9). Itu dilakukan untuk melihat dampak paparan asap rokok terhadap mereka. Ada tiga indikator yang dijadikan patokan. Warna hijau masih aman, kuning bisa masuk perokok aktif atau pasif. Sedangkan merah, sudah parah.
Dari puluhan siswa SMKN 1 Kota Madiun yang mengikuti skrining tim Puskesmas Sukosari, mayoritas masih masuk indikator warna hijau. Artinya, dampak rokok di kalangan siswa belum parah atau bisa dicegah.
Namun, ada 2–3 orang yang masuk kategori kuning. Rata-rata mereka adalah perokok aktif. Ada juga beberapa pelajar yang terdeteksi sebagai perokok pasif. Mereka masuk kategori rawan terdampak efek negatif rokok. Rata-rata para siswa tersebut menjadi perokok pasif karena ayahnya merokok di rumah atau kerap berada di lingkungan perokok.
‘’Prinsipnya ini deteksi dini kesehatan siswa supaya tahu punya penyakit apa. Kalau butuh rujukan, kami anjurkan ke puskesmas atau faskes terdekat. Juga untuk mencegah perilaku perokok muda yang akan berdampak buruk terhadap kesehatan,’’ terang Koordinator Pelayanan UKS Puskesmas Sukosari drg Fauzia Koesdianarwati.
Skrining dilakukan dengan pengisian formulir dan wawancara. Selain itu, siswa juga dites dengan menggunakan CO Analyzer atau Smokerlyzer untuk mengetahui kadar karbon monoksida dalam tubuh.
Lewat skrining tersebut, Fauzia berharap generasi muda di Kota Madiun bisa memikiki tubuh yang sehat. Sehingga mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan optimal. ‘’Kalau didapati kadar CO yang tinggi akan kami beri rujukan penanganan di puskesmas. Kalau masih dalam batas wajar akan kami beri edukasi langsung ke siswa dan ke pihak sekolah,’’ jelasnya. (ggi/her)
DAMPAK BURUK PEROKOK AKTIF–PASIF
- Kerontokan rambut
- Gangguan pada mata seperti katarak
- Kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan perokok
- Penyakit paru-paru kronis
- Merusak gigi dan bau mulut tidak sedap
- Stroke dan serangan jantung
- Tulang lebih mudah patah
- Menyebabkan kanker leher rahim dan keguguran
- Kemandulan dan Impotensi
- Kanker kulit
SUMBER: P2PTM Kemenkes RI
Editor : Mizan Ahsani