KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Perjuangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun mendigitalisasi manuskrip atau naskah kuno tidaklah mudah.
Karena belum tentu pemilik naskah mau menyerahkan koleksi naskah kuno tersebut untuk di-scan digital dalam bentuk soft copy.
Selasa (27/9), bagi mereka yang sudi menyerahkan naskah kuno miliknya diberikan piagam penghargaan.
Salah seorang di antaranya adalah Suhardo, warga Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman.
Mantan Ketua DPRD Ponorogo periode 1999–2004 itu mengaku hanya satu naskah kuno miliknya yang didigitalisasi oleh dinas perpustakaan dan kearsiapan.
Yakni, buku serat wedhatama terbitan tahun 1900-an.
"Sebanarnya banyak naskah kuno koleksi saya. Ada Kartoloco, Islam abangan, dan (serat) darmojati. Tapi, yang dipilih ternyata itu saja," kata Suhardo.
Dalam serat wedhatama tersebut, terdiri dari 100 pupuh tembang macapat yang dibagi dalam lima lagu. Antara lain, Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, dan Kinanthi.
"Minimal bermanfaat (sebagai sumber bacaan) dan koleksi perpustakaan. Itu pun difotokopi. Sedangkan, (naskah) aslinya dikembalikan kepada saya," terang Suhardo.
Selain Suhardo, ada Agustinus Marjanto dan Yayan Krisnian Widodo yang juga memperoleh apresiasi dari wali kota Maidi atas kesediaan nasakah kuno miliknya untuk dialihmediakan.
"Dengan dialihmediakan (digitalisasi), naskah itu tidak punah," kata Maidi.
Lebih lanjut, kata Maidi, saat ini pemkot tengah menyusun konsep Kota Madiun sebagai wisata heritage.
Keberadaan manuskrip kuno yang telah didigitalisasi tersebut bisa menambah kesan heritage. Di samping, hasrat pemkot yang ingin menata cagar budaya di Kota Madiun.
"Jadi, naskah kuno itu penting. Hingga akhirnya, kami kembalikan semula kepada pemiliknya. Dan, diharapkan kota ini bisa menjadi pusat (pembelajaran sejarah)," harapnya. (mg1/her)
Editor : Mizan Ahsani