KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Sebanyak 338 mahasiswa Stikes Bhakti Husada Mulia (BHM) Madiun diwisuda pada Selasa, (17/10). Prosesi wisuda digelar di Ballrom Aston Hotel.
Ratusan wisudawan tersebut berasal dari program studi (prodi) S-1 Keperawatan, S-1 Farmasi, S-1 Kesehatan Masyarakat, D-3 Kebidanan, D-3 Farmasi, dan D-3 Rekam medik.
‘’Mereka telah lulus ujian kompetensi sesuai bidang masing- masing sehingga dapat di yudisium, dan mengikuti prosesi wisuda,’’ kata Ketua Stikes BHM Madiun Zaenal Abidin.
Zaenal berharap, para wisudawan mampu menjadi lulusan yang adaptif di era digital.
Sebab, era digital kesehatan kini lebih untuk lebih mengarah ke tele-kesehatan dan telemedicine, dimana fasilitas dan layanan kesehatan dilakukan melalui telekomunikasi dan teknologi komunikasi digital.
’’Untuk mempersiapkan diri di era digital ini tantangan yang dihadapi harus memiliki kreatifitas untuk mampu memanfaatkan peluang digital dengan selalu mengikuti tren industry pelayanan kesehatan. Jika hanya berdiam diri tidak akan memiliki daya saing untuk menangkap peluang dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.,’’ ungkap Zaenal.
Dia menyebutkan, Stikes BHM Madiun terus melangkah lebih maju melalui peningkatan mutu pendidikannya.
’’Tahun ini masih on proses berbagai perbaikan, dimana kami akan menambah dua program studi yaitu profesi apoteker dan bidan,’’ ungkapnya.
Pihaknya juga akan terus menyiapkan sumber daya kesehatan yang mumpuni melalui perubahan bentuk menjadi institut maupun universitas kesehatan.
’’Harapannya bisa naik kelas menjadi perguruan tinggi yang lebih besar lagi,’’ tambahnya.
Dalam prosesi wisuda tahun akademik 2022/2023 itu enam mahasiswa dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik masing-masing prodi dengan raihan IPK tertinggi. Armydika Laurentha dari S-1 kesehatan masyarakat, misalnya, mampu membukukan IPK 3,94.
’’Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan orang tua. Baik dukungan moral, spiritual, mental, maupun emosional. Selain itu, berdoa dan berpasrah diri. Alhamdulillah, harapan saya terkabulkan,’’ ujar Armydika.
Sementara, Wahyu Intan Permatasari dinyatakan sebagai lulusan terbaik prodi S1 keperawatan dengan IPK 3,9. ‘’Kuncinya, yang utama niat. Tanpa adanya niat yang kuat akan sulit mendapatkan keberhasilan ini,’’ sebutnya. (bri/isd/bar)
Editor : Mizan Ahsani