Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Profil Letkol Inf Arief Widyanto, Eks Danyonif Para Raider yang Sempat Baku Tembak dengan Perompak Somalia dan Damaikan Tentara Lebanon-Israel

Mizan Ahsani • Sabtu, 18 November 2023 | 23:30 WIB
SERTIJAB: Mayor Inf Yakhya Wisnu Arianto menggantikan Letkol Inf Arief Widyanto sebagai Danyonif Para Raider 501/Bajra Yudha. (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)
SERTIJAB: Mayor Inf Yakhya Wisnu Arianto menggantikan Letkol Inf Arief Widyanto sebagai Danyonif Para Raider 501/Bajra Yudha. (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Letkol Inf Arief Widyanto resmi menanggalkan jabatannya sebagai Danyonif Para Raider 501/Bajra Yudha.

Dia bakal pindah ke Jambi setelah hampir dua tahun bertugas di Madiun.

Jebolan Akmil 2004 itu pernah berkiprah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon dan pembebasan Kapal MV Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia.

Suara letupan senjata api terdengar bersahut-sahutan di blue line Panorama Point, Lebanon Selatan.

Suasana mencekam itu terjadi saat Lebanese Armed Forces (LAF) dan Israel Defense Forces (IDF) saling kontak tembak di wilayah perbatasan Lebanon-Israel pada 4 Juli 2010 silam.

Kala itu, Kontingen Garuda yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) menjadi saksi ketegangan pasukan bersenjata Lebanon-Israel di perbatasan kedua negara.

‘’Saya masih teringat adanya ketegangan antara Lebanon dan Israel pada 2010 lalu. Saya berada di tengah-tengah konflik kedua negara,’’ kenang Letkol Inf Arief Widyanto.

Ketegangan pasukan Lebanon-Israel tersebut menempatkan pasukan Kontingen Garuda di kondisi yang cukup sulit.

Meski tergabung dalam peacekeeper atau pasukan penjaga perdamaian PBB, kontingen tidak dapat berbuat banyak kala itu.

Berbekal standard operating procedure UNIFIL, Arief dkk hanya mengemban misi mendamaikan pihak yang bersitegang. Bukan mendamaikan pihak yang terlibat kontak tembak.

‘’Kami tidak bisa mengambil banyak tindakan. Karena posisi kami imparsial atau tidak memihak. Akhirnya, pasukan memutuskan untuk memilih withdraw (mundur) dari pertempuran,’’ ungkap pria 40 tahun itu.

Pasca memilih mundur dari konflik kontak tembak, pasukan Kontingen Garuda sempat justru menerima respon kurang mengenakkan dari pihak Lebanon.

Kala itu, pihak Lebanon mengaku kecewa dengan keputusan Kontingen Garuda. Mereka justru berharap pasukan Indoensia membantu mereka dalam pertempuran.

‘’Dengan berat hari kami harus mundur dari daerah kontak tembak,’’ ucap Arief.

Mundur bukan berarti meninggalkan daerah konflik. Ya, Kontingen Garuda tidak menyerah untuk menciptakan kedamaian Lebanon-Israel.

Meski di tengah situasi pertempuran selama seharian utuh, pasukan terus berupaya menenangkan pihak Lebanon untuk menghentikan tembakan dan tidak memperkeruh konflik kedua negara.

Alhasil, kontak tembak mampu dihentikan dan ketegangan di wilayah perbatasan mulai mereda.

‘’Karena kami di border Lebanon, pendekatan kami lakukan secara person to person. Mulai tentara serta masyarakatnya,’’ terang suami Tyas Ninditya Sari itu.

Kendati begitu, tugas Arief dkk belum selesai. Kepercayaan sebagian masyarakat Lebanon terhadap Kontingen Garuda yang sempat terkikis coba diperbaiki.

Namun, kondisi justru malah semakin keruh ketika adanya media pemberitaan di Lebanon yang menggiring asumsi negatif masyarakat setempat terhadap keberadaan tentara Indonesia.

Mereka terus ‘’menggoreng’’ pemberitaan bahwa tentara Indonesia tidak profesional. Tak hanya itu, kehadiran pasukan UNIFIL juga dianggap memihak Israel.

‘’Tugas kami saat itu melakukan pemahaman dan pendekatan intens kepada masyarakat Lebanon. Termasuk menjelaskan tugas pasukan di sana. Alhamdulillah kepercayaan masyarakat setempat berangsur membaik,’’ ujarnya.

Kondusivitas wilayah Panorama Point, Lebanon Selatan bertahan hingga Arief purnatugas dalam operasi perdamaian tersebut pada Desember 2010.

Saat itu, Kontingen Garuda pulang ke Tanah Air dengan kepala tegak. Betapa tidak, Indonesia dinilai telah berhasil meredam konflik Lebanon-Israel.

‘’Ini pengalaman berharga bagi saya. Yakni, mendamaikan pihak yang berkonflik hingga kontak tembak,’’ sebutnya.

Setelah operasi perdamaian, Arief ternyata tidak memiliki banyak waktu saat berada di Indonesia. Dua bulan berselang, dia harus kembali mengemban misi penting.

Yakni, ikut dalam penyelamatan kapal MV Sinar Kudus yang tengah membawa delapan ribu feronikel milik PT Aneka Tambang dibajak perompak.

Insiden itu terjadi pada 16 Maret 2011 silam. Kapal kargo tersebut dibajak perompak bersenjata asal Somalia ketika melintas di timur laut Pulau Socotra, Oman, menuju Pelabuhan Rotterdam, Belanda.

‘’Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu memanggil pangkostrad, danjen kopassus serta dankormar menyiapkan opsi pembebasan sandra kapal MV Sinar Kudus. Kemudian, pasukan anti teror dari tiga matra (TNI AD, AL, dan AU, Red) dikerahkan melaksanakan misi tersebut,’’ jelas ayah tiga anak tersebut.

Tak hanya itu, pasukan yang memiliki kemampuan khusus dalam operasi militer juga disiapkan sebagai backup.

Saat itu, Arief berdinas di Kompi Pengintai Tempur (Taipur) Batalyon Intelijen Kostrad. Nah, spesialisasi pasukan ini melaksanakan pengintaian dan pertempuran dalam misi pembebasan kapal MV Sinar Kudus.

‘’Kami diberangkatkan menuju Oman untuk melakukan persiapan sebelum operasi pembebasan sandera,’’ bebernya.

Kendati sudah melakukan pergerakan operasi pembebasan, presiden masih mengedepankan opsi negosiasi dengan perompak.

Proses tersebut diserahkan PT Samudera Indonesia selaku pemilik kapal MV Sinar Kudus. Pembajakan dan penyanderaan berlangsung selama 46 hari.

‘’Negosiasi dilakukan untuk mengurangi risiko adanya korban jiwa. Sebab, terdapat sekitar 20 ABK (anak buah kapal) yang disandera,’’ jlentrehnya.

Upaya negosiasi berhasil setelah uang tebusan senilai miliaran rupiah dibayarkan. Kemudian, kapal dilepas oleh para perompak.

Namun, kejadian yang tidak diinginkan benar-benar terjadi. Ya, kapal MV Sinar Kudus dikejar perompak Somalia dari klan yang berbeda.

Saat itu, kawanan perompak tidak setuju kapal dilepas.

‘’Mungkin mereka kurang puas dengan jatah uang tebusan yang diberikan. Nah, kondisi itu digunakan pasukan tempur untuk menghadang sekaligus menghancurkan mereka,’’ sebut Arief.

Melihat perompak mengejar kapal MV Sinar Kudus menggunakan perahu motor, dua sea reader milik TNI melakukan manuver dan menghadang. Aksi tembak-tembakan pun tak terelakkan.

Namun, pasukan TNI berhasil melumpuhkan para pemberontak Somalia itu. Empat perompak Somalia dikabarkan tewas akibat pertempuran tersebut.

‘’Kapal MV Sinar Kudus dikawal hingga bersandar di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dan dinyatakan aman,’’ katanya.

Peristiwa tersebut memaksa Arief berada di dua pilihan. Yakni, antara hidup dan mati. Dia tidak merasa takut seandainya harus gugur di medan pertempuran kala itu.

Bahkan, Arief dkk sudah menyiapkan kantong jenazah seandainya insiden buruk terjadi.

‘’Just in case (berjaga-jaga) bila gugur. Ini menjadi pengalaman, sejarah, dan momen yang sangat berharga. Karena kami prajurit siap bertempur apa pun yang terjadi,’’ pungkasnya. (ggi/her/*)

Editor : Mizan Ahsani
#Yonif #lebanon #Letkol #somalia #para raider #arief widyanto #profil #perompak #israel