Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kedelai Lokal Kalah Saing! Pedagang di Madiun Sebut Banyak Warga Lebih Pilih yang Impor

Mizan Ahsani • Sabtu, 6 Januari 2024 | 01:00 WIB

KOMODITAS PANGAN: Kenaikan harga kedelai dipicu minim pasokan impor. (APRILITA SARI/JAWA POS RADAR MAGETAN)
KOMODITAS PANGAN: Kenaikan harga kedelai dipicu minim pasokan impor. (APRILITA SARI/JAWA POS RADAR MAGETAN)
 

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Nasib petani kedelai perlu diperhatikan. Itu merujuk kecenderungan konsumsi komoditas tersebut di pasaran.

Seperti yang terjadi di Pasar Besar Madiun (PBM). ''Lebih banyak yang beli kedelai impor dibandingkan lokal,'' kata Suminem, 53, seorang pedagang, Kamis (4/1).

Pedagang tengah beradaptasi dengan pola pembelian konsumen. Suminem berani kulak kedelai impor dalam jumlah banyak. Sementara jenis lokal sebaliknya.

''Stok kedelai impor, yang katanya dari Amerika itu, juga melimpah,'' ujarnya.

Hitung-hitungan ekonomi juga mempengaruhi faktor kecondongan itu. Suminem menuturkan, harga kedelai impor lebih murah. Dia biasa kulak Rp 11.400 lalu dijual Rp 12 ribu per kilogram.

Sementara kedelai lokal, kulak Rp 13 ribu lantas dibanderol lagi Rp 15 ribu. ''Kedelai lokal lebih mahal karena kemarau panjang, hasil panen petani menurun,'' ungkapnya.

Eksistensi kedelai lokal ibarat di ujung tanduk. Terancam digeser kedelai impor sebagai bahan baku produksi tempe dan tahu.

Melihat pangsa pasar  itu, Suminem mengepras jumlah kulak kedelai lokal. Antara 10-15 kilogram per pekan.

''Biasa ambil kedelai lokal dari Jiwan, Karangjati (Ngawi), dan Magetan,'' pungkasnya. (mg1/den)

Editor : Mizan Ahsani
#pasar besar #impor #Kedelai #madiun #lokal