KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Tingginya rata-rata biaya hidup rumah tangga dalam sebulan di Kota Madiun dipengaruhi sejumlah hal.
Selain harga kebutuhan pokok naik, pola hidup warga Kota Pendekar yang cenderung komsumtif menjadi salah satu faktor pemicunya.
Pakar Ekonomi dari Universitas Merdeka (Unmer) Madiun Muhammad Imron mengatakan, rata-rata biaya hidup rumah tangga sebesar Rp 7.048.502.
Itu tidak sebanding dengan besaran upah minimum kota (UMK) Madiun yang hanya Rp 2.274.277. ‘’Jadi, bisa dikatakan ini besar pasak daripada tiang,’’ katanya, Rabu (9/1).
Sebab, menurutnya, pendapatan yang diterima untuk rata-rata sekelas pekerja lebih kecil dibandingkan pengeluaran per bulan dalam rumah tangga.
Meski begitu, Imron menduga masyarakat mempunyai sumber pemasukan lain di luar pendapatan pokoknya.
Di samping itu, dia menambahkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Kota Madiun ikut berdampak pada meningkatnya rata-rata biaya hidup rumah tangga dalam sebulan.
‘’Kota Madiun yang dulunya hanya merupakan pusat perdagangan, kini telah berubah menjadi daerah jujukan wisata. Kondisi itu ikut mempengaruhi rata-rata biaya hidup,’’ ungkap Imron.
Namun demikian, Imron mengungkapkan tingginya rata-rata biaya hidup rumah tangga ini menunjukkan bahwa perekonomian di Kota Madiun tumbuh pesat.
Imbasnya lapangan pekerjaan baru terbuka lebar. Selain itu, angka pengangguran turun.
‘’Tapi, saya menyakini banyak masyarakat Kota Madiun memiliki sumber pendapatan lain di luar pendapatan pokoknya,’’ pungkasnya. (mg1/her)
Editor : Mizan Ahsani