KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Ada potensi koalisi parpol pendukung Maidi yang saat ini sudah terbentuk bubar sebelum pilkada 2024 berlangsung.
Prediksi itu diungkapkan oleh Muhammad Ali Fauzi, akademisi sekaligus mantan Ketua KPU Kota Madiun periode 2009–2012.
Dia beralasan karena beberapa parpol yang tergabung dalam koalisi gemuk itu masing-masing menyodorkan nama sebagai bacawawali pendamping Maidi.
‘’Misalnya, kepentingan parpol tidak diakomodir bisa saja pecah seperti Pilpres 2024,’’ katanya, Kamis (16/5).
Menurutnya, parpol berkoalisi karena cenderung memiliki kepentingan dan tujuan sama.
Tapi, koalisi yang dibangun secara prematur dan terdiri dari banyak parpol bukan berarti tidak mungkin akan protol.
Apalagi, kata Ali, proses pendaftaran pasangan calon (paslon) masih Agustus nanti. Artinya, ada potensi komunikasi politik yang berjalan.
Terlebih rekomendasi dari masing-masing DPP parpol belum memunculkan nama paket paslon.
‘’Dalam koalisi saat ini faktanya ada 2–3 bakal calon wakil wali kota dari parpol berbeda. Kan tidak mungkin semuanya dicalonkan. Pasti salah satu dipilih atau bahkan semuanya tidak dipilih,’’ paparnya.
Selain itu, lanjut Ali, faktor lain adalah kenyamanan parpol di dalam koalisi tersebut seandainya Maidi memang memilih kader salah satu partai atau non-partai.
‘’Kira-kira kalau tidak jadi (bacawawali) apakah masih nyaman atau tidak di dalam koalisi. Pasti mengganggu dan berpotensi bisa tidak solid koalisinya,’’ jelasnya.
Di sisa waktu tiga bulan sebelum proses pendaftaran paslon saat ini, Ali mengatakan, Maidi harus pintar-pintar menentukan pilihan sekaligus membangun komunikasi politik dengan partai koalisi.
‘’Untuk memilih wakil, menurut saya melihat dulu siapa lawannya. Tidak mungkin seorang calon membuat strategi pemenangan tanpa mengetahui siapa lawannya. Kalau lawannya berat, kalau begitu harus cari wakil yang memang kuat untuk potensi menang tinggi,’’ terangnya.
Dia menduga saat ini Maidi masih menimbang-nimbang beberapa nama yang bisa disandingnya. Pun, Ali menganggap dinamika politik di Kota Madiun begitu dinamis.
Apalagi, kontestasi pemilihan terbuka yang dianut dalam sistem demokrasi sekarang berorientasi transaksional.
‘’Wakil wali kota kan partner kerja wali kota. Idealnya, dibutuhkan wakil yang memang bisa mengimbangi potensi Pak Maidi,’’ pungkasnya. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani