KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kematian GPN, salah seorang siswi SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun pada 12 Juni lalu masih menyisakan tanda tanya.
Apalagi, pihak keluarga siswi kelas X itu menyatakan bahwa GPN dalam kondisi sehat dan baik-baik saja saat pulang ke Ngawi dua minggu sebelum meninggal.
‘’Nggak ada riwayat penyakit dalam. Karena mau masuk sekolah ada tes kesehatan,’’ kata Bagus Handono, ayah GPN, Sabtu (22/6) lalu.
Namun, dua pekan setelahnya pihak sekolah memberikan kabar jika GPN mengeluh sakit.
Bagus sekeluarga yang menerima informasi itu langsung bergegas ke RSUD Kota Madiun, tempat GPN dirawat.
Saat itu, pihak rumah sakit sempat menyampaikan bahwa pelajar berusia 16 tahun tersebut hanya mengalami demam.
‘’Dari IGD (RSUD Kota Madiun) kami minta hasil laboratorium nggak dikasih karena (didiagnosis) cuma panas. Terus saya bawa pulang ke Ngawi,’’ ujarnya.
Sesampainya di rumah, kondisi GPN malah memburuk.
Bagus lantas berinisiatif membawa pelajar tersebut ke Puskesmas Geneng.
Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan bahwa anaknya ternyata mengalami infeksi dalam hingga mesti dirujuk ke RS Widodo Ngawi.
Ketika di rumah sakit tersebut, GPN sempat tak sadarkan diri sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia di ruang ICU ketika akan mendapatkan penanganan secara medis.
‘’Saya ada penyesalan, kenapa sekolah nggak dari awal memberikan informasi jelas,’’ keluh Bagus.
Kematian GPN lantas viral di media sosial (medsos).
Berbagai dugaan penyebab kematian siswi SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun itu pun muncul.
Termasuk di antaranya GPN sempat diduga mengalami kekerasan fisik ketika di sekolah.
Pernyataan SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun
Pihak SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun yang mendengar berita dugaan penyebab kematian GPN tersebut menyebar liar, kemudian angkat bicara kemarin (25/6).
Kepala SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun Agus Supriyono membantah bahwa GPN meninggal dunia akibat mengalami kekerasan saat di sekolah.
‘’Anak kami itu (GPN) memang tidak mengalami kekerasan. Tapi, sempat mengeluh pusing dan dibawa ke UKS serta ke RSUD Kota Madiun,’’ terangnya.
Diakuinya, sebelum meninggal pada 12 Juni lalu, almarhumah tampak sehat seperti peserta didik lainnya. Bahkan, yang bersangkutan sempat mengikuti kegiatan sekolah.
‘’Jadi, tidak ada dipukuli, tidak ada kekerasan. Hasil laporan dari kepolisian setelah meminta data dari RSUD Kota Madiun dan RS Widodo Ngawi, kami diberi tahu bahwa ananda meninggal karena sakit infeksi, leukosit (kelebihan sel darah putih) tinggi,’’ jelas Agus.
Yang jelas, kata dia, pihak sekolah sejauh ini cukup aware ketika ada peserta didik yang mengalami sakit.
Pun, menelisik apa penyebabnya. Termasuk kasus kali ini, GPN dinyatakan meninggal dunia karena sakit.
‘’Sekolah sangat berduka. Nama baik sekolah juga terdampak kalau sampai beredar (kabar dugaan tindak kekerasan, Red) ke mana-mana,’’ ucapnya.
‘’Semua (keterangan) saya serahkan ke kepolisian. Kepolisian akan menelusuri itu. Kalau sudah jelas, tidak perlu ditanggapi lagi,’’ terang Agus.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Madiun Kota AKP Sujarno mengaku telah menerima informasi tentang kematian GPN.
Pun, proses penyelidikan sempat dilakukan oleh pihaknya untuk memastikan penyebab kematian siswi SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun tersebut.
‘’Kami melangkah ke TKP (tempat kejadian perkara). Mulai rumah duka, sekolah, dan rumah sakit untuk mengkarifikasi kebenaran kabar itu (dugaan kekerasan),’’ ungkapnya.
Hasil klarifikasi yang telah dilakukan anggota di lapangan, lanjut Sujarno, pihaknya tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang dialami GPN.
Pun, hasil rekam medis menyatakan bahwa GPN meninggal murni karena sakit yang diderita.
‘’Itu (hasil penyelidikan) kami sampaikan ke orang tua dan pihak orang tua bisa menerima. Ini mendasar rekam medis yang diberikan dokter ke keluarga. Hasilnya juga sama,’’ terang mantan Kanit Reskrim Polsek Taman tersebut. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani