Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kota Madiun Dibayangi Dampak Deflasi Beruntun, TPID Gelar High Level Meeting

Erlita H • Kamis, 24 Oktober 2024 | 01:30 WIB
RAPAT: Pj Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto saat memimpin high level meeting TPID perihal mengatasi dampak deflasi di kantor diskominfo kemarin (22/10). (DISKOMINFO KOTA MADIUN)
RAPAT: Pj Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto saat memimpin high level meeting TPID perihal mengatasi dampak deflasi di kantor diskominfo kemarin (22/10). (DISKOMINFO KOTA MADIUN)

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Imbas deflasi selama lima bulan berturut-turut yang terjadi di Kota Madiun perlu diwaspadai oleh seluruh pihak.

Selasa (22/10), dampak atau penyebab periode penurunan harga barang dan jasa itu dibedah dalam high level meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di kantor diskominfo.

Penjabat (Pj) Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto mengamini perlu dilakukan langkah konkret untuk mengendalikan tren deflasi saat ini.

Misalnya dengan pemanfaatan bantuan subsidi barang atau angkutan. Selain itu, berkoordinasi dengan penyedia barang seperti Bulog dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

Dirinya juga mendorong pemanfaatan aplikasi ProUMKM. Yang mana, aparatur sipil negara (ASN) diharuskan berbelanja pada lapak UMKM.

’’Pada kondisi seperti ini, kami berharap ASN untuk meningkatkan berbelanja di pasar atau lapak UMKM. Saya juga minta bagian perekokesra untuk benar-benar berperan mengecek tren inflasi atau deflasi. Termasuk optimalisasi inovasi Wartek dan sebagainya,’’ kata Eddy.

Di samping itu, menurut dia, perlunya pemkot mengontrol langsung ketersediaan sekaligus pasokan barang dari tingkat produsen, distributor dan pasar.

Pun, mempertimbangkan kerja sama soal pasokan bawang merah dengan Nganjuk maupun padi dari Ngawi dan Kabupaten Madiun.

’’Ini tugas semua. Kami minta dinas terkait untuk diteliti apakah saat ini (deflasi) dipicu karena kelebihan stok atau daya belim masyarakat turun. Sehingga, bantuan langsung tunai dari dinas sosil bisa segera diturunkan,’’ ungkap Eddy yang juga menjabat sebagai Kepala Bakesbangpol Jatim tersebut.

Sementara itu, Sekda Soeko Dwi Handiarto menduga tren deflasi hal ini disebabkan oleh komoditas pangan yang mengalami kelebihan pasokan atau over supply.

Ke depan, dia mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) untuk meningkatan produktivitas belanja pemerintah agar dapat mendorong peningkatan fiscal multiplier effect pada perekonomian dan pendapatan masyarakat.

’’Mungkin dari deflasi ada keuntungan bagi UMKM terkait (harga) bahan pokok yang turun. Diharapkan, peluang ini bisa ditangkap agar ketahanan pangan di Kota Madiun lebih mantab,’’ katanya.

Baca Juga: Menyala Rider Indonesia! Aldi Satya Mahendra Jadi Pebalap Asia Pertama yang Juarai Balap WorldSSP300

Soeko khawatir fenomena deflasi beruntun ini ternyata juga dipengaruhi daya beli masyarakat yang turun.

Tapi, dia masih belum mengamini dugaan tersebut. Sebaliknya, TPID bakal mencari tahu penyebab persisnya di lapangan.

’’Dengan begitu, kami dapat mengatur strategi secara tepat. Artinya, kalau memang daya beli menurun, kami akan memberikan intervensi berupa bantuan sosial kepada masyarakat kurang mampu dan anak-anak stunting,’’ terang mantan kepala disperkim itu.

Di sisi lain, pihaknya juga membeberkan tentang rencana untuk mengintervensi pekarangan pangan lestari (P2L).

Sehingga, hasil produksi dari P2L bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat marjinal.

’’Kalau semisal memang (deflasi) disebabkan karena faktor daya beli, kami bisa melihat dan intervensi apa yang bisa dilakukan. Sementara, apabila dipengaruhi over suplay, mau tidak mau kami harus bisa mengolah komoditas bahan pangan,’’ jelas Soeko.

Di pihak lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun Abdul Aziz menyebut deflasi beruntun ini merupakan fenomena penyesuaian kembali kondisi harga bahan pangan.

Mengingat selama setahun terakhir atau sebelum Lebaran lalu harga komoditas pangan melambung.

’’(deflasi) kondisi Kota Madiun saat ini dapat diartikan bahwa harga-harga telah kembali ke normal, begitu juga pasokannya. Terlebih lagi, (daerah) komoditas pemasok pangan belum lama ini sedang panen raya pada Juni–September,’’ ungkap Aziz.

Soal kemungkinan deflasi juga dipengaruhi daya beli masyarakat yang menurun, Aziz belum bisa memberikan kepastian.

Karena pihaknya dengan BPS Jatim belum melakukan penghitungan.

’’Tapi, kalau melihat kondisi saat ini sepertinya daya beli masih terjaga dengan baik. Ini melihat dari (tren inflasi) angka year or year yang masih terkendali,’’ bebernya. (err/her)

Pergerakan Inflasi/Deflasi 2024

Januari: 0,16 persen

Februari: 0,59 persen

Maret: 0,66 persen

April: 0,09 persen

Mei: -0,40 persen

Juni: -0,48 persen

Juli: -0,03 persen

Agustus: -0,07 persen

September: -0,14 persen

Editor : Mizan Ahsani
#Inflasi #dampak #kota madiun #deflasi #penyebab