KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kota Madiun mencatatkan inflasi 0,43 persen pada Desember 2024.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu pada bulan yang sama, inflasi tercatat mengalami kenaikan 0,20 persen.
Kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau memberikan pengaruh besar terhadap inflasi pada akhir tahun dengan andil 1,43 persen.
Sementara komoditas yang memicu terjadinya inflasi di antaranya telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan minyak goreng.
’’Ini disebabkan karena bertepatan dengan momen perayaan Natal dan tahun baru. Selain itu, juga masuk musim hujan yang berpengaruh pada produksi hasil pertanian,’’ terang Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun Abdul Aziz, Kamis (2/1).
Kemudian, secara kumulatif (yoy) selama 2024 Kota Madiun mengalami inflasi sebesar 1,31 persen.
Jika dihitung secara periodik mulai 2008–2024, menurutnya, angka inflasi tahun ini termasuk yang terendah.
’’Inflasi rendah ini disebabkan karena selama periode 2024 sempat terjadi deflasi hingga lima bulan beruntun,’’ jelas Aziz.
Sementara itu, Aziz menambahkan ada beberapa potensi yang bisa memicu inflasi sepanjang tahun ini. Di antaranya, kenaikan harga BBM dan makan bergizi gratis.
’’Kalau tidak ditata atau kelola dengan baik terkait persediaan bahan makanan untuk program makan bergizi gratis nantinya dikawatirkan dapat mengganggu persediaan barang di pasaran,’’ terangnya.
Jika sudah begitu, kata dia, harga bahan pokok bakal melonjak. Selain itu, opsen PKB dan BBNKB juga berpotensi mempengaruhi inflasi pada 2025 berikut kenaikan PPN 12 persen.
’’Tentunya pemerintah harus bisa menyiapkan kebijakan khusus untuk menekan inflasi,’’ tuturnya.
Dia tunjuk contoh seperti menjaga ketersediaan kebutuhan bahan pangan bagi warga.
Kemudian, menjaga stabilisasi harga bahan pokok. Menurut Aziz, kebijakan itu perlu menjadi prioritas mengingat Kota Madiun bukan termasuk daerah penghasil bahan pangan. ’’Yang penting, masyarakat dijaga agar tidak panic buying,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Mizan Ahsani