KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Satu per satu kasus demam berdarah dengue (DBD) bermunculan.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) Kota Madiun melaporkan, sebanyak 18 penderita dirawat di puskesmas-rumah sakit gegara digigit nyamuk Aedes Aegypti sepanjang Januari 2025.
Belasan kasus itu tersebar di 10 kelurahan. Yang mana, Sogaten dan Manisrejo menjadi kelurahan dengan temuan kasus terbanyak (selengkapnya lihat grafis).
’’Penanganan DBD dapat diawali dengan dilakukannya penyelidikan epidemiologi (PE). Setelah itu baru dilakukan fogging,’’ kata Kadinkes-PPKB Kota Madiun dr Denik Wuryani, kemarin (16/1).
Diungkapkan, fogging tidak lantas memutus perkembang biakkan nyamuk. Pihaknya menyarankan kepada masyarakat untuk dibarengi dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
’’Fogging tidak membunuh jentik nyamuk, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Karena itu, kami lakukan (fogging) setiap dua siklus,’’ ungkap mantan kabid pelayanan medik RSUD Kota Madiun tersebut.
Denik menyebutkan dari hasil penyelidikan epidemiologi yang sempat dilakukannya terungkap banyak perindukan nyamuk yang hidup dan berkembang biak di sekitar lingkungan tempat tinggal penderita.
Kondisi itu diperparah dengan hujan yang terus-menerus mengguyur dalam beberapa hari terakhir sehingga memunculkan genangan-genangan air di mana-mana.
Di genangan air yang dimaksud itulah, pihaknya mendapati terjadi perkembangan biakkan nyamuk Aedes Aegypti.
"Hal tersebut ditangani dengan gerakan 3M plus. Jadi, tidak hanya sekadar fogging,’’ ujar Denik.
Persebaran kasus DBD pada awal tahun ini memang cukup masif. Bahkan, beberapa siswa di SDN 03 Nambangan Kidul diidentifikasi mengalami gejala demam berdarah.
Hingga akhirnya, dinkes mesti melakukan pengasapan di lingkungan sekolah tersebut kemarin.
Kepala SDN 03 Nambangan Kidul Wuryantini mengakui sejumlah peserta didiknya saat ini mengalami demam dan sakit panas.
Bahkan, ada yang sempat dirawat di rumah sakit. Kondisi itu membuatnya khawatir.
’’Memang ada beberapa yang mengeluhkan sakit panas. Tetapi, penyebab jelasnya tidak tahu,’’ ujarnya.
Dia tak menampik lingkungan sekolahnya sempat “diserang” nyamuk. Sampai-sampai pihak sekolah memasangi obat nyamuk di setiap kelas.
Tapi, ternyata upayanya tersebut tidak berhasil. Keberadaan mereka terus bermunculan. ’’Adanya fogging di sekolah ini tentu diharapkan bisa mengurangi nyamuk.
Selain itu, kami juga melakukan kerja bakti rutin setiap pekan untuk mencegah penyebaran DBD di sekolah,’’ kata Wuryantini. (err/her)
SEBARAN KASUS DBD 2025
Kejuron: 1 kasus
Manisrejo: 3 kasus
Mojorejo: 2 kasus
Demangan: 2 kasus
Taman: 1 kasus
Josenan: 1 kasus
Winongo: 2 kasus
Madiun Lor: 1 kasus
Sogaten: 4 kasus
Kanigoro: 1 kasus
’’Fogging tidak membunuh jentik nyamuk, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Karena itu, kami lakukan (fogging) setiap dua siklus,’’ dr Denik Wuryani Kadinkes-PPKB Kota Madiun
Fogging Sasar Sekolahan
Editor : Mizan Ahsani