Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Masjid Kuno Kuncen: Warisan Islam Abad ke-16 di Madiun yang Sarat Sejarah

Erlita H • Minggu, 2 Februari 2025 | 20:15 WIB

 

Masjid Kuno Kuncen, Kota Madiun. (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)
Masjid Kuno Kuncen, Kota Madiun. (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)
 

Banyak kisah tersimpan di Masjid Kuno Kuncen di Kota Madiun. Tempat ibadah yang berusia ratusan tahun itu juga sarat peninggalan bersejarah. Berikut sekelumit cerita yang berhasil dikulik wartawan Jawa Pos Radar Madiun Erlita Herminingsih dari takmir masjid, Mukhamad Efendi.

--- 

Jawa Pos Radar Madiun – Masjid Kuno Kuncen alias Masjid Nur Hidayatullah sarat sejarah. Wujud saksi perjalanan peradaban Islam di Madiun.

Masjid yang didirikan Pangeran Timur, putra Sultan Trenggana, pada 18 Juli 1568 ini, bertalian erat dengan historis dengan penyebaran Islam di tanah Jawa.

Arsitektur masjid memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Demak dan Masjid Sunan Ampel. Itu mencerminkan pengaruh kuat para wali dalam pembangunannya.

Hingga kini, bangunan masjid masih mempertahankan keaslian bentuk. Beberapa bagian kecil direhabilitasi untuk menjaga ketahanan struktur tanpa mengubah keaslian.

Salah satu peninggalan yang masih dapat dijumpai di dalam masjid adalah empat saka (tiang) penyangga berbahan kayu kaji.

Konstruksi berdiameter 30 sentimeter dan tinggi 17 sentimeter itu penuh filosofi. Yakni, melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW. Meliputi, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Sementara angka 17 merujuk pada jumlah rakaat salat wajib dalam sehari. Pun, tanggal 17 Ramadhan, momen yang penuh keberkahan dalam Islam.

Kayu-kayu jati tersebut diperoleh dari wilayah Kuncen dan Saradan. Yang dulunya masih berupa hutan belantara. Struktur itu hingga kini tetap menjadi bagian penting dalam konstruksi utama masjid.

Peninggalan lainnya, yang masih terawat adalah dampar. Sebuah tempat membaca dan belajar Al Qur'an berbahan dari kayu jati. Dampar masih digunakan secara rutin hingga sekarang. Terutama saat Ramadan untuk tadarus Al Quran selama satu bulan penuh.

Mimbar asli Masjid Kuncen yang dulu berdesain polos telah diganti pada awal 2000-an karena termakan usia dan serangan rayap.

Meski demikian, struktur dan fungsinya tetap mengikuti model lama yang digunakan di berbagai masjid kuno. Saat khatib naik, wajib mengucapkan salawat tiga kali sebelum duduk.

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad,

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad,

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

Masjid Kuno Kuncen juga memiliki bedug berdiameter 60 sentimeter. Buatan 1800-an dari kayu jati dan kulit sapi. Dahulu, bedug ini digunakan sebagai pemanggil jamaah untuk salat.

Saat ini, bedug lama tersebut telah digantikan dengan bedug baru dari bonggol pohon asem yang tumbuh di depan masjid. Yang asli masih tersimpan di halaman depan sebagai bukti peninggalan sejarah masjid ini.

Pada masa kepemimpinan Wali Kota Madiun Bambang Irianto pada 2010, masjid ini mengalami rehabilitasi. Perbaikan dilakukan untuk mencegah banjir. Caranya, meninggikan pondasi, bangunan, dan pintu masjid.

Selain itu, reng dan usuk yang mulai lapuk turut diganti. Meski telah mengalami renovasi, 99 persen bagian masjid masih serupa bentuk aslinya.

Struktur utama seperti jendela, pintu, ketebalan dinding, dan model arsitektur tetap dipertahankan agar warisan sejarah tidak hilang.

Masjid Kuno Kuncen juga tetap menjaga berbagai tradisi Islam yang telah berlangsung turun-temurun. Seperti kenduri malam Isra Miraj dan beberapa yang lain (selengkapnya lihat grafis).

Masjid ini didirikan oleh Pangeran Timur, anak bungsu Sultan Trenggana, yang terpaksa meninggalkan Demak setelah konflik suksesi pasca wafatnya sang ayah pada 1546.

Dalam perjalanannya, Pangeran Timur diasuh oleh Mas Karebet atau Jaka Tingkir, yang lantas menjadi penguasa Pajang.

Atas restu Sunan Bonang dan para wali, Pangeran Timur diangkat menjadi Bupati Madiun pada 18 Juli 1568 dan mendirikan Masjid Kuno Kuncen sebagai pusat dakwah Islam. Meski menjabat adipati, pemikiran Pangeran Timur tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.

Keberadaan Masjid Kuno Kuncen menjadi bukti nyata peradaban Islam yang telah berkembang di Madiun sejak abad ke-16.

Pun, keberadaan tempat ibadah itu tetap lestari hingga kini. Bahkan, masjid ini diyakini memiliki keistimewaan spiritual. Siapapun yang berdoa di Masjid Kuncen, insya Allah mustajab. ***(den)

Editor : Hengky Ristanto
#Masjid tertua di Madiun #Pangeran Timur Madiun #Sejarah Islam di Madiun #Sejarah Masjid Kuncen #Masjid Kuncen Madiun #Masjid Kuno Kuncen #wisata religi madiun