Jawa Pos Radar Madiun - Keberadaan Sendang Kuncen di Kelurahan Kuncen, Taman, Kota Madiun, menyimpan segudang cerita. Itu coba dikulik wartawan Jawa Pos Radar Madiun Erlita Herminingsih. Beragam informasi dihimpun Jumat (14/2) lalu dari Pahadi, Kasubbag Umum BPK XIII, Kalimantan Tengah dan Selatan. Narsum terpercaya yang dulu memimpin ekskavasi sendang saat menjabat Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.
Baca Juga: Kisah Juru Kunci Makam Kuncen, Inilah Saimunir dan Perjalanan Hidupnya Selama 25 Tahun
----
Sendang Kuncen berupa sumber air. Sejak lama dianggap sakral oleh sebagian masyarakat. Pernah menjadi objek ekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, September 2021. Buah permintaan Pemkot Madiun yang berniat menghidupkan kembali fungsi sendang sebagai bagian wisata religi. Sebab, mata air sempat tertutup.
Pahadi kala itu memimpin penelitian bersama 11 anggota. Fokus utama tim adalah menggali potensi struktur arkeologi di sekitar sendang. Seperti, pola petirtaan atau pembentukan sendang secara terencana.
Sebelum menggali, lebih dulu dikumpulkan berbagai informasi dari juru kunci dan masyarakat sekitar. Salah satu informasi yang diperoleh dari juru kunci, sumber air ditutup sebagian menggunakan ijuk dan pangkal pohon pada 1984. Pun, pembuatan sumur berdiameter 6x4 meter. Itu bertujuan untuk mengurangi aliran air yang terlalu deras. Alahasil, air tak lagi meluber ke luar area sendang.
Berdasarkan penuturan masyarakat, sendang yang juga dikenal dengan nama Sendang Kahuripan dan Sendang Tundung itu dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Cekungan air diyakini sebagai tempat pengobatan supranatural dan ritual tertentu.
Ekskavasi dilakukan dengan pendekatan ilmiah. Namun, pelaksanaannya tetap menghormati kepercayaan masyarakat sekitar. Protokol adat yang disarankan juru kunci dituruti. Seperti, waktu penggalian untuk tidak dilakukan saat pagi. Serta, beberapa larangan tertentu.
Dalam ekskavasi, dilakukan penggalian sedalam enam meter. Juga, memperluas area penelitian hingga 14 meter mencakup bagian jalan aspal. Namun, harapan menemukan struktur bangunan atau jejak peradaban lama tak jadi nyata. Nihil temuan yang bisa dikategorikan struktur buatan manusia. Misal, sekadar susunan bata atau batu.
Hasil ekskavasi bertolak belakang dengan informasi juru kunci. Yakni, sumber air seharusnya ditemukan pada kedalaman empat meter. Dilakukan selama seminggu lebih. Di kacamata arkeologi, besar kemungkinan Sendang Kuncen memang terbentuk secara alami. Bukan hasil konstruksi manusia seperti sendang di situs-situs lain.
Laporan dari arsip Belanda, Sendang Kuncen telah dikenal masyarakat sebagai sumber air keramat. Yang mana, kerap digunakan untuk pengobatan tradisional pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Apa yang dilakukan Pahadi dan tim atas permintaan pemkot itu juga untuk pengembangan wisata religi di kawasan Sendang Kuncen. Sebab, lokasinya berdekatan dengan Makam Ronggo Jumeno sebagai Bupati Madiun pertama dan Masjid Kuncen.
Tiga kawasan sarat cerita dan sejarah itu berada dalam satu jalur wisata religi di Kota Madiun. Sendang Kuncen tidak hanya dikenal sebagai sumber air bersejarah. Tetapi, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan destinasi wisata religi yang menghubungkan sejarah, spiritualitas, dan kepercayaan masyarakat. ***(err/den)
Editor : Hengky Ristanto