Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mengenal Miftahul Huda, Ketua MUI Kota Madiun 2025 dengan Latar Belakang Akademik Kuat

Erlita H • Minggu, 2 Maret 2025 | 20:15 WIB
Ketua MUI Kota Madiun Miftahul Huda
Ketua MUI Kota Madiun Miftahul Huda

Jawa Pos Radar Madiun - Miftahul Huda didapuk sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2025. Itu setelah Sutoyo mengundurkan diri. Pun, berlanjut ke pengusulan namanya sebagai pengganti oleh dewan pengurus pertimbangan.

"Saya minta ridha ke orang tua, ke guru. Alhamdulillah, beliau semua ridha dan merestui,'' kata Miftah, sapaannya, kemarin (1/3).

Miftah menjalani kesehariannya sebagai pengasuh di Pondok Pesantren Kanzul Ulum 2 Sukosari, Kota Madiun. Serta, aktif mengisi majelis taklim di beberapa daerah, seperti Magetan, Ponorogo, dan Ngawi.

Dia juga mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Madiun dan menjabat sebagai Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab.

Pengalaman akademik dan profesional pria 35 tahun itu cukup panjang. Dia pernah menjadi Wakil Kepala Madrasah di MA Mu'allimin Mu'allimat Denanyar Jombang, serta mengajar di berbagai perguruan tinggi. Seperti UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, dan Institut KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto.

"Saya lama aktif sebagai pendidik di Jombang, terutama di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar. Saya mondok di sana 11 tahun," ungkap warga Jalan Tawangsuko, Kelurahan Sukosari, Kartoharjo, Kota Madiun, itu.

Miftah mulai mengabdi di pondok sejak 2006 hingga 2017. Baik sebagai santri maupun pendidik. Dia menempuh S1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, jurusan Pendidikan Bahasa Arab, lulus 2013.

Dia mendapat beasiswa karya tulis ilmiah dengan judul Paradigma Pendidikan Imam Al-Ghazali, yang diberikan oleh salah satu bank nasional. Dia kemudian melanjutkan S2 di jurusan yang sama, dan lulus pada 2016.

Pria asal Desa Kubangwungu, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, ini kemudian meneruskan pendidikan S3 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam bidang yang sama, dari 2017 hingga 2023.

"S3 saya memang agak lama, sekitar enam tahun, karena biaya yang cukup mahal. Beberapa kali saya cuti untuk mengumpulkan biaya secara mandiri," tuturnya.

Di keluarganya, Miftah menjadi orang pertama yang berhasil menempuh pendidikan hingga S3. Bahkan, di desanya saat itu, sangat jarang yang menempuh pendidikan hingga jenjang S2, apalagi S3.

"Bagi saya, yang penting selesai S1. Syukur bisa lanjut S2. Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan S3 di usia 30-an," ujar Dewan Pakar Himpunan Pengusaha NU ini.

Miftah mengaku bahwa ridha orang tua dan guru menjadi pegangan utama dalam perjalanan akademiknya.

Dia pernah diterima untuk melanjutkan studi di Mesir dan Sudan, tetapi memilih tetap kuliah di Jawa Timur karena tidak mendapatkan izin dari orang tua.

Keputusannya menekuni dunia pendidikan juga terinspirasi dari sang ayah, H. Saifuddin Zuhri, yang merupakan guru Pendidikan Bahasa Arab di desanya. Sejak kecil, Miftah sudah akrab dengan lingkungan pendidikan agama.

Di pesantren tempatnya mondok, bahasa Arab dan Inggris digunakan dalam keseharian.

"Saya senang dengan bahasa Arab, karena memahami agama salah satunya dengan menguasai bahasa ini. Sebagian besar kitab-kitab agama juga ditulis dalam bahasa Arab," jelasnya.

Dia menuturkan, sejak kecil dia sudah diperkenalkan dengan kitab kuning di kampungnya. Tradisi di desanya, setelah lulus madrasah ibtidaiyah (MI), anak-anak biasanya meneruskan pendidikan ke pesantren di Jombang atau Lirboyo, Kediri.

Miftah berharap generasi muda, khususnya di Kota Madiun, dapat menguasai ilmu agama secara mendalam.

Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut adanya kader-kader ulama yang kompeten.

"Kita butuh ulama-ulama muda dari Kota Madiun yang siap meneruskan estafet perjuangan para ulama terdahulu," pungkasnya. (err/den)

Editor : Hengky Ristanto
#ulama #latar belakang pendidikan #Miftahul Huda #Ketua MUI Kota Madiun