Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Jejak Sejarah Masjid Besar Kuno Taman, Tempat yang Sempat Dilirik Sebagai Istana oleh Ronggo Prawirodirjo I

Erlita H • Minggu, 9 Maret 2025 | 21:45 WIB
Masjid Besar Kuno Taman
Masjid Besar Kuno Taman

 

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Masjid Besar Kuno Taman juga dikenal sebagai Masjid Donopuro. Sebuah tempat ibadah dengan nilai sejarah dan budaya uang kuat. Perpaduan antara Islam dengan tradisi Hindu yang masih kental pada masa itu.

Masjid Besar Kuno Taman dibangun pada tahun 1754 oleh Kiai Ageng Misbach atau Kiai Donopuro. Berdiri di atas tanah perdikan. Yakni, tanah yang dibebaskan dari pajak oleh Kerajaan Mataram kala itu.

Tanah ini awalnya diberikan kepada Kanjeng Pangeran Ronggo Prawirodirjo I di bawah kekuasaan Mataram. Kemudian, tanah tersebut diserahkan kepada Kiai Ageng Misbach, yang merupakan penasihatnya, untuk mendirikan masjid sebagai pusat penyebaran agama Islam di Madiun.

Kanjeng Pangeran Ronggo Prawirodirjo I lantas mencari lokasi yang cocok untuk istana di Madiun. Dia menelusuri berbagai wilayah hingga menemukan daerah Taman. yang saat itu masih berupa rawa-rawa dan pesanggrahan.

Namun, setelah mempertimbangkan kondisi geografisnya dan menemukan makam para bupati terdahulu di sana, diputuskan bahwa tempat tersebut kurang cocok untuk istana. Sebagai ganti, dibangunlah masjid di lokasi tersebut.

Arsitektur Masjid Besar Kuno Taman memiliki gaya khas Mataram Islam yang masih kuat dipengaruhi oleh budaya Hindu. Salah satu ciri khasnya adalah tidak menggunakan kubah, berbeda dengan masjid-masjid modern saat ini.

Konsep ini mengikuti tradisi Hindu. Bangunan suci selalu berdampingan dengan makam. Sebelum Islam masuk, masyarakat Hindu menyembah Dewi Durga, dewa kehancuran dan kematian, dengan membangun tempat pemujaan di dekat makam.

Ketika Islam berkembang, konsep ini diadaptasi. Masjid didirikan berdekatan dengan makam, bukan lagi untuk pemujaan, melainkan sebagai pengingat akan kematian dan akhirat.

Dulu, penyembahan dewa digantikan dengan fungsi masjid sebagai tempat ibadah. Namun, tetap mempertahankan konsep makam di sekitarnya. Termasuk makam para Bupati Madiun terdahulu.

Masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga tempat penyebaran Islam di Madiun. Selain itu, pembangunan Masjid Besar Kuno Taman juga menjadi simbol kesetiaan Madiun kepada Kesultanan Yogyakarta, menggantikan upeti kepada kerajaan.

Tak hanya itu, Kanjeng Pangeran Ronggo Prawirodirjo I juga mencari lokasi lain yang lebih sesuai untuk membangun istana. Akhirnya, ditemukan tempat yang kini dikenal sebagai Lanud Iswahjudi, yang dahulu merupakan bekas keraton Madiun.

Hingga kini, Masjid Besar Kuno Taman tetap menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi di Kota Madiun. Masjid ini menjadi bukti nyata bagaimana Islam masuk dan berkembang di wilayah ini dengan tetap menghormati kearifan lokal. (err/den)

Editor : Hengky Ristanto
#Ronggo Prawirodirjo I #Masjid Besar Kuno Taman #kota madiun #cagar budaya #Warisan Budaya Islam #arsitektur