Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Manisnya Usaha Madumongso di Kota Madiun saat Ramadan dan Jelang Lebaran, Produksi Tembus Satu Ton!

Erlita H • Rabu, 19 Maret 2025 | 23:55 WIB
BERBAHAN KETAN: Eva Tri Susanti sedang membawa produk madumongso cap tawon kemarin
BERBAHAN KETAN: Eva Tri Susanti sedang membawa produk madumongso cap tawon kemarin

 

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Dua pekan sebelum Idul Fitri, pesanan madumongso membeludak.

Seperti yang dirasakan Eva Tri Susanto dan Fondas Harjanto. Pasangan suami istri warga Jalan Bali, Kelurahan/Kecamatan Kartoharjo, itu meneruskan usaha madumongso cap tawon yang dirintis orang tua, Sugiarti dan Sumarsono.

Eva mulai ikut membantu membuat madumongso sejak menikah dengan Fondas Harjanto dan tinggal di Madiun pada 2011.

Mulai menjadi admin toko, mengurusi gaji karyawan, sampai produksi. "Kami izin sudah lengkap dan merek dagang," kata Eva, Selasa (18/3).

Di hari biasa, dia bisa membuat madumongso satu bulan satu sampai tiga kali atau sekitar satu kuintal produksi.

Sedangkan pada momen Lebaran, kenaikan bisa sampai 100 persen. Produksi tembus satu ton madumongso.

Peningkatan terjadi karena produksi dilakukan dari sebelum Ramadan sampai setelah Lebaran.

Banyak pemudik yang pulang membawa oleh-oleh.

Di momen lebaran ini, Eva menjual eceran plastik maupun packing sebesar Rp 85-90 per kilogram. Sedangkan hari biasa Rp 80-85 ribu per kilogram.

Selain di Kota Madiun, Eva juga mendistribusikan madumongso ke luar kota. Seperti Kabupaten Madiun, Ngawi, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Malang, Batu.

Termasuk ke Jawa Tengah seperti Purwantoro dan Wonogiri.

"Selain pesanan langganan, juga ramai reseller luar kota dan membuka penjualan eceran langsung maupun online," terang perempuan 49 tahun itu.

Dia menjelaskan, proses pembuatan madumongso dilakukan dalam waktu satu Minggu.

Mulai pembersihan ketan lalu direndam semalam, lanjut menanak ketan dan dibiarkan sampai dingin. Kemudian proses fermentasi atau peragian selama 4-5 hari.

"Kalau hujan kayak gini bisa lima hari, tetapi kalau tidak hujan cukup empat hari," tambahnya.

Melalui usaha tersebut, ibu dua anak itu juga melibatkan keluarga dan tetangga sekitar. Yakni satu karyawan tetap dan dua karyawan panggilan.

Dia juga biasa meminta bantuan anak-anaknya saat libur sekolah untuk membungkus madumongso.

"Ciri khas madumongso di sini dari bahan yang prima," terang alumnus Universitas Brawijaya itu.

Dia berharap peningkatan penjualan tidak hanya di momen Lebaran karena bisa mengundang dan membantu pendapatan masyarakat sekitar rumah.

Kemudian makanan legendaris madumongso bisa dikenal sampai ke generasi sekarang. "Harapan saya, produk tradisional ini tetap bertahan dan bersaing dengan industri lain," harapnya. (err/den)

Editor : Mizan Ahsani
#madumongso #kota madiun #ramadan #lebaran #usaha