KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Lebaran Ketupat tak sekadar tradisi usai Idul Fitri. Ada makna mendalam yang diwariskan turun-temurun dari para wali, khususnya Sunan Kalijaga.
Biasanya, perayaan ini digelar seminggu setelah hari raya, sebagai penutup rangkaian bulan suci Ramadan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun Miftahul Huda mengatakan, tradisi Lebaran Ketupat berasal dari budaya masyarakat Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkannya dengan mengumpulkan masyarakat untuk makan ketupat bersama sekaligus saling memaafkan.
"Biasanya hari ketujuh atau kedelapan setelah Idul Fitri. Inilah bentuk silaturahmi dan kearifan lokal para wali," ujar Gus Miftah, sapaan akrabnya, Minggu (6/4).
Menurutnya, kata "kupat" merupakan akronim dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Ada pula pemaknaan lain, yaitu ngaku papat (empat pengakuan).
Ngaku lebaran – selesai menjalankan puasa. Ngaku luberan – berbagi rezeki lewat zakat atau sedekah.
Ngaku leburan – melebur dosa kepada Allah dan sesama. Ngaku laburan – memutihkan hati layaknya dinding yang dilabur kapur.
"Setelah saling memaafkan, hati kembali jernih, pikiran pun tenang," jelasnya.
Dahulu, proses pembuatan ketupat dilakukan dengan penuh tirakat, doa, dan zikir. Bahkan bisa berlangsung seminggu hingga sebulan.
Namun kini, masyarakat lebih fokus pada penyajiannya. Meski begitu, esensi Lebaran Ketupat tak berubah: mempererat silaturahmi dan menyatukan hati.
Biasanya, ketupat digantung di depan rumah sebagai simbol partisipasi dalam tradisi tersebut.
Gus Miftah pun mengajak umat Islam menjadikan momen ini untuk mempererat hubungan, terutama setelah suasana politik yang sempat memanas.
"Mari kita kembali rukun, jangan saling memfitnah. Bersinergi membangun Kota Madiun yang diberkahi," pungkasnya. (err/den)
Editor : Hengky Ristanto