Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Batik Shibori Karya Warga Kota Madiun Siap Go Nasional, Hadirkan Sentuhan Jepang pada Setiap Desainnya

Erlita H • Selasa, 15 April 2025 | 01:00 WIB
KREATIF: Anita Rachmawati menunjukkan berbagai macam motif batik Shibori hasil produksi atau karyanya.
KREATIF: Anita Rachmawati menunjukkan berbagai macam motif batik Shibori hasil produksi atau karyanya.

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Kreativitas warga Kota Madiun tak ada habisnya. Salah satunya ditunjukkan Anita Rachmawati.

Perempuan 43 tahun yang akrab disapa Nita itu kini tengah serius mengembangkan batik shibori, teknik pewarnaan kain khas Jepang yang menghasilkan motif unik dan eksotis.

Bertempat di rumahnya, Jalan Sukoharjo nomor 76, Kelurahan Madiun Lor, Manguharjo, Nita mengolah batik shibori menjadi aneka kerajinan tangan bernilai jual tinggi.

Mulai dari kain batik, tas, sarung bantal, dompet, topi, hingga gantungan kunci.

’’Alhamdulillah, sekarang mulai banyak pesanan dari lembaga-lembaga di Kota Madiun,’’ ujar Nita, Minggu (13/4).

Shibori berasal dari kata "shiboru" dalam bahasa Jepang yang berarti memeras, meremas, atau menekan.

Teknik ini sudah digunakan sejak zaman kekaisaran Jepang abad ke-17 dan kini populer di Indonesia dengan nama jumputan atau sasirangan.

Keunggulan shibori terletak pada teknik ikat dan celup yang sederhana namun mampu menghasilkan pola artistik.

Nita mulai mendalami kerajinan sejak 2009 lewat brand Owl Handicraft. Awalnya dia membuat souvenir, buket, hingga hampers.

Namun di awal 2025 ini, ia mantap mengangkat batik shibori sebagai identitas barunya.

’’Bisa produksi 10 potong batik ukuran satu meter per hari. Semua full handmade,’’ bebernya.

Untuk proses pewarnaan, Nita menggunakan bahan dasar kain putih katun atau glossy yang dilipat, diikat dengan karet, lalu dicelup ke dalam pewarna.

Setelah dikeringkan dan dibuka, muncullah pola yang unik sesuai ikatan. ’’Teknik ini saya pelajari secara otodidak dari YouTube dan Pinterest,’’ imbuhnya.

Produk buatan Nita pun dijual dengan harga terjangkau.

Gantungan kunci Rp 10 ribu, tas Rp 25 ribu, sarung bantal Rp 55 ribu, topi Rp 50 ribu, dan kain batik ukuran 1,2x1,1 meter dibanderol Rp 85 ribu.

Saat ini dia memasarkan produknya secara online, lewat bazar maupun dari mulut ke mulut.

Kendati begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya soal edukasi harga. Banyak yang menganggap produk handmade mahal, tanpa tahu proses rumit di baliknya.

’’Padahal ini buatan tangan. Prosesnya panjang dan harus telaten,’’ ujar lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Ponorogo itu.

Ke depan, Nita ingin menggelar workshop kecil di depan rumah seperti yang kerap ditemui di Jogja.

’’Saya juga berharap masyarakat bisa lebih menghargai karya lokal dan pelaku kerajinan tangan,’’ harapnya. (err/her)

Editor : Mizan Ahsani
#Jepang #batik #kota madiun #shibori