Jawa Pos Radar Madiun – Umat Katolik di Kota Madiun bersiap menyambut puncak perayaan iman mereka: Paskah.
Puncak liturgi tahunan ini diawali dengan Tri Hari Suci yang dimulai Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, hingga Minggu Paskah.
’’Tri hari paskah dimulai Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Minggu Paskah. Ini puncak iman Katolik,’’ kata Romo Adrianus Akik Purwanto, salah satu rohaniwan Gereja Santo Cornelius, Kamis (17/4).
Rangkaian ibadah Paskah 2025 dimulai Kamis Putih pukul 18.00 dan 21.00.
Jumat Agung dilangsungkan pukul 14.00 dan 17.00, Sabtu Sunyi pukul 17.30 dan 20.30, dan ditutup dengan misa Minggu Paskah pukul 08.00 dan 18.00.
Romo Akik menjelaskan, sebelum tiba pada Minggu Paskah, umat menjalani masa Prapaskah selama 40 hari, dimulai dari Rabu Abu.
Masa itu dijalani dengan tiga laku rohani: doa, puasa-pantang, dan amal kasih.
’’Doa membersihkan diri. Puasa menahan keinginan pribadi. Dan amal kasih menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama. Ketiganya harus berjalan bersama,’’ imbuh rohaniwan asal Bojonegoro itu.
Pekan Suci dimulai dari Minggu Palma dan berlanjut ke Kamis Putih, hari perjamuan terakhir Yesus bersama para murid.
Di hari itu pula, umat mengenang simbol kasih melalui pembasuhan kaki.
Sementara Jumat Agung menjadi momen reflektif mengenang sengsara dan wafat Yesus di salib.
Sabtu Sunyi dirayakan dalam suasana hening dan penuh permenungan, tanpa hiruk-pikuk.
Puncaknya terjadi pada Sabtu malam yang disebut Malam Paskah, diisi doa dan tuguran.
Barulah Minggu Paskah dirayakan sebagai lambang kebangkitan dan harapan baru.
’’Tema paskah tahun ini: Bangkit dan Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan. Artinya, kita diajak menjadi penyala harapan bagi sesama. Terutama mereka yang secara fisik tertinggal,’’ jelas Romo Akik.
Tahun ini, Gereja Santo Cornelius Madiun tidak menggelar visualisasi jalan salib seperti tahun-tahun sebelumnya.
Alasannya, agar umat bisa fokus pada permenungan pribadi dan kehidupan keluarga.
’’Kami ingin umat memusatkan diri pada hal-hal yang primer. Keluarga adalah akar gereja. Jika keluarganya kuat, maka gereja pun akan kuat,’’ tegasnya.
Diperkirakan, selama perayaan Tri Hari Suci, sebanyak 2.500 hingga 3.000 umat akan hadir setiap harinya.
Gereja pun menyiapkan 2.000 kursi dan pengaturan lalu lintas agar ibadah berjalan lancar.
’’Paskah bukan hanya mengenang, tetapi menghidupi. Bangkit itu artinya bertobat, dan berjalan bersama artinya menyambut sesama. Itulah makna Paskah sejati,’’ pungkas Romo Akik. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto