Jawa Pos Radar Madiun – Ratusan umat Katolik mengikuti visualisasi jalan salib Yesus Kristus di Gereja Katolik Paroki Mater Dei Madiun, kemarin (18/4).
Rangkaian 14 peristiwa penuh makna itu dibawakan secara teaterikal oleh Orang Muda Katolik (OMK) mulai pukul 07.00 hingga 08.30 WIB di dalam gereja.
Setiap adegan menggambarkan kisah penderitaan Yesus sejak dijatuhi hukuman mati hingga dimakamkan.
Peristiwa ini menjadi bagian dari pekan suci yang dimulai sejak Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, hingga puncaknya di Minggu Paskah.
’’Ini bukan sekadar mengenang penderitaan, tapi momen doa yang mengajak umat merenungkan kasih Yesus yang menyelamatkan umat manusia,’’ terang Romo Andreas Andri Nurtjahja Endra Waskita, Pastor Kepala Paroki Mater Dei Madiun.
Romo Aan –sapaan akrabnya– menjelaskan, visualisasi jalan salib ini bukan membawa kesedihan.
Sebaliknya, menjadi permenungan akan buah kasih dari salib. ’’Kami akan lebih mengalami buah salib ketika berani hidup dalam kebenaran Allah,’’ ujarnya.
Gereja yang berkapasitas 500 umat itu pun dipadati jemaah sejak pagi. Terop dan kursi tambahan disiapkan bagi mereka yang tak kebagian tempat di dalam.
Rangkaian visualisasi dimulai dari saat Yesus dijatuhi hukuman mati, memanggul salib, jatuh untuk pertama kali, hingga berjumpa dengan Bunda Maria.
Kemudian berlanjut ke peristiwa saat wajah Yesus diusap Veronika, ditolong Simon dari Kirene, hingga saat Yesus wafat di kayu salib dan akhirnya dimakamkan.
Puncak visualisasi digelar menjelang perayaan ibadah Jumat Agung pukul 15.00 WIB.
Menurut Romo Aan, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun. ’’Kami ingin mengajak umat, khususnya generasi muda, untuk memahami makna sejati penderitaan dan pengorbanan Yesus,’’ katanya.
Michael Dimas Ray Hendrawan, pemuda 18 tahun yang memerankan Yesus, mengaku perasaannya campur aduk. Mulai dari senang, capek, hingga haru.
’’Yang paling berat itu ketika harus membawa salib dan disiksa. Tapi justru di situ saya merasa makin menjiwai peran Yesus,’’ ungkapnya.
Dia menyebut, latihan telah dimulai sejak Maret. Peran ini bisa dijalani berkat dukungan penuh dari orang tua dan sesama anggota OMK.
’’Semoga ini bisa memotivasi teman-teman muda untuk aktif di gereja,’’ pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto