Jawa Pos Radar Madiun –Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2025 di Kota Madiun berlangsung kondusif dan penuh semangat.
Wali Kota Maidi memimpin senam bersama 350 buruh, pengusaha, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan Forkopimda di Pahlawan Business Center (PBC), kemarin (1/5).
Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Disnaker-KUKM) Kota Madiun, Harum Kusumawati, menyebut kegiatan berlangsung aman dan tertib berkat kolaborasi semua pihak.
"Ini bentuk harmonisasi antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah," ujarnya.
Masalah klasik mengenai upah tetap menjadi topik utama dalam peringatan May Day kali ini.
Namun, Upah Minimum Kota (UMK) Kota Madiun untuk tahun 2025 telah ditetapkan naik 6,5 persen, menjadi Rp 2.422.105, dari sebelumnya Rp 2.274.277.
Kenaikan UMK ini dibahas dalam Dewan Pengupahan, yang melibatkan unsur Apindo, akademisi, serikat pekerja, BPS, dan pemerintah daerah.
"Alhamdulillah, semua pihak sepakat dan UMK 2025 sudah diterima gubernur," kata Harum Kusumawati.
Harum juga menyoroti tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus menurun.
Pada tahun 2023 tercatat 131 kasus PHK, berkurang menjadi 92 kasus di tahun 2024.
Hingga Januari–Mei 2025, tercatat hanya 10 kasus PHK. "Semoga sampai akhir tahun tidak ada PHK lagi," harapnya.
Selain itu, seluruh perusahaan diimbau untuk mengikutsertakan pekerjanya dalam program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (JKK-JKM).
Pemkot Madiun juga mendukung program tersebut untuk memastikan perlindungan pekerja, baik di sektor formal maupun informal.
Wali Kota Maidi menambahkan, peringatan May Day kali ini dirayakan dengan senam, makan bersama, dan joget bareng, untuk membangun suasana kerja yang positif.
"Kerja itu harus senang, enjoy, dan bahagia. Kolaborasi pekerja dan pengusaha jadi kunci sukses," tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto