Jawa Pos Radar Madiun – Penilian tahap pertama lomba Sekolah Peduli Inflasi (SPI) berakhir sudah.
Sebanyak 29 SMP/MTs di Kota Madiun dipastikan konsen untuk mewujudkan bagian dari program mandiri pangan tersebut.
Titik Irawati, juri dari Uniska Kediri, menyampaikan bahwa antusiasme sekolah sangat tinggi dalam menyambut program SPI.
’’SPI ini mengedukasi generasi muda untuk sadar pentingnya kemandirian dan ketahanan pangan sebagai upaya menekan inflasi lokal,’’ ujarnya, Kamis (22/5).
Dia menekankan, setelah tahap monitoring dan evaluasi awal ini, sekolah diharapkan lebih serius dalam merawat tanaman hingga akhir Juli.
Sebab, keberlanjutan dan kualitas hasil tanam akan menjadi aspek penting dalam penilaian.
Program SPI tak hanya fokus pada penanaman, namun juga memperkenalkan metode urban farming di lahan sempit, termasuk memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam.
Bahkan, sejumlah sekolah dinilai kreatif karena memproduksi pupuk organik mandiri dari cangkang telur dan limbah dapur.
Menurut standar perlombaan, hasil produksi boleh dijual segar maupun diolah dalam bentuk lain.
’’Tujuan akhirnya, sekolah bisa menyuplai kebutuhan harian dari hasil tanam sendiri,’’ jelas Titik.
Sementara itu, Kepala SMPN 12 Kota Madiun, Sudjani, mengapresiasi program ini karena memberikan pembiasaan positif pada siswa.
’’Siswa belajar menanam, merawat, dan memanen sendiri. Hasilnya bisa untuk kebutuhan sekolah maupun membantu masyarakat,’’ terangnya.
Dia menyebut beberapa catatan dalam evaluasi, seperti waktu pemindahan bibit dan pengecekan kondisi tanaman secara berkala. Cuaca juga menjadi tantangan tersendiri.
’’Kami belajar mengantisipasi musim ekstrem agar proses menanam tetap optimal,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Mizan Ahsani