Jawa Pos Radar Madiun – Libur panjang Idul Adha 1446 H yang disertai cuti bersama selama empat hari tak berdampak signifikan pada okupansi hotel di Kota Madiun.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Madiun, Aris Suharno, menyampaikan bahwa tingkat hunian hotel bintang dan non-bintang hanya meningkat seperti akhir pekan biasa.
’’Kenaikannya hanya sekitar 50–60 persen, mirip Sabtu-Minggu. Hari biasa biasanya di angka 40–50 persen,’’ ujarnya, Senin (9/6).
Menurutnya, rendahnya pergerakan wisatawan dipengaruhi turunnya daya beli masyarakat dan bertepatan dengan masa pendaftaran sekolah.
’’Banyak yang fokus biaya pendidikan, dari TK sampai perguruan tinggi. Jadi, walau cuti panjang, tidak banyak yang bepergian,’’ jelasnya.
Meski demikian, okupansi tahun ini sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu. Sebab, libur Iduladha tahun ini lebih panjang.
’’Rata-rata tamu menginap 1–2 hari. Kenaikan terjadi di Sabtu dan Minggu saja, tidak signifikan,’’ imbuhnya.
Berbeda dengan sektor hotel, Aris mengungkapkan bahwa sektor restoran justru mengalami lonjakan signifikan.
’’Restoran bisa naik 80–90 persen,’’ beber mantan anggota DPRD Kota Madiun itu.
Dia juga menyinggung soal rencana pelonggaran kegiatan instansi di hotel dan restoran oleh Kemendagri.
Termasuk agenda meeting, incentive, convention, dan exhibition (MICE) yang sempat dibatasi karena efisiensi anggaran.
’’Kegiatan MICE bisa menyumbang hingga 30–40 persen pendapatan hotel besar. Ini peluang,’’ ujarnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto