Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tradisi Suroan dan Suran Agung, Cerita Silat Palagan Lawu Wilis Special Chapter, Pesilat Tanggalkan Seragam di Bulan Suro

Deni Kurniawan • Jumat, 13 Juni 2025 | 08:22 WIB
Ilustrasi tradisi pesilat Madiun di Bulan Suro.
Ilustrasi tradisi pesilat Madiun di Bulan Suro.

JAWA POS RADAR MADIUN – Beraneka rupa budaya tradisi leluhur yang masih lestari hingga sekarang. Mulai tari, gamelan, wayang, dan masih banyak lagi. Setiap daerah punya. Tak terkecuali Madiun.

Salah satu budaya dan tradisi Madiun adalah pencak silat. Yang mana, ikatan pencak silat Indonesia (IPSI) setempat mencatat ada 14 perguruan pencak silat di daerah yang diapit Gunung Lawu dan Gunung Wilis ini.

Berbicara mengenai pencak silat di Madiun, ada momen sakral pagi ribuan pesilat. Adalah ketika kalender Jawa jatuh di Bulan Suro.

Sebagai contoh, ada tradisi Suroan milik Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Serta, Suran Agung dari Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Tunas Muda.

Dua agenda besar itu kerap mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Baik pemerintah maupun aparat kepolisian setempat.

Sebab, dua agenda pesilat di Bulan Suro itu selalu melibatkan banyak massa. Ya, banyak pesilat yang ingin nyekar ke makam leluhurnya.

Momen tahunan itu tetap dijaga dengan penuh khidmat oleh para pesilat di Madiun. Banyak pesilat yang masih ngugemi tradisi di Bulan Suro itu.

Bagi mereka, Suro bukan sekadar penanggalan Jawa. Bulan istimewa ini adalah ruang suci dan cermin jati diri.

Baca Juga: Flora dan Fauna Kota Madiun, Sudah Ada Sejak Era Kolonial dan Dipercaya Pembawa Kabar Baik

Bulan Suro atau yang juga dikenal sebagai Muharram dalam kalender Hijriah memiliki makna mendalam dalam tradisi spiritual Jawa.

Dalam cerita silat maupun kehidupan nyata para pesilat, Suro menjadi waktu untuk menyepi dan menyucikan hati.

Serta untul memperkuat hubungan dengan guru, alam, dan Sang Pencipta.

Di berbagai padepokan silat di Madiun, baik PSHT, PSHW Tunas Muda, dan belasan perguruan lain seperti IKSPI Kera Sakti, Bulan Suro diisi dengan tirakat.

Ada beberapa yang masih menjalani puasa mutih hingga lelaku tapa bisu.

Konon di malam 1 Suro, ribuan pesilat berkumpul dalam sebuah upacara adat, duduk bersila dalam keheningan, membaca doa, dan mengingat petuah guru-guru silat.

Bulan Suro bukan saatnya untuk unjuk kekuatan, tetapi momen merenung.

Yakni, memikirkan untuk apa silat dipelajari?

Apakah untuk kesombongan atau sebagai jalan hidup?

Sebagaimana dikisahkan dalam cerita silat Palagan Lawu Wilis, sosok Dewa Madewa pernah berkata, “Silat bukan alat kekuasaan. Silat adalah jalan untuk mendekatkan diri pada kesadaran diri.”

Ungkapan ini merepresentasikan nilai-nilai luhur yang dihayati para pesilat di Bulan Suro.

Bahwa, silat adalah warisan budaya dan spiritual, bukan sekadar bela diri.

Dan yang lebih penting, bukan ajang membuat ontran-ontran.

Semua tentu sepakat jika para pesilat dari berbagai aliran duduk bersama, menanggalkan ego dan seragam, untuk kembali ke akar di Bulan Suro.

Yaitu, berbudi pekerti luhur, menjunjung kebenaran, dan mampu mengendalikan diri.

Itulah sebabnya dalam berbagai cerita silat, seperti yang ditulis dalam Palagan Lawu Wilis.

Bahwa, pertarungan di Bulan Suro dianggap haram jika hanya dilandasi amarah.

Sejatinya, ada harmoni dan potensi yang luar biasa antara silat dengan Bulan Suro di Madiun.

Bukan hanya warisan tradisi dan budaya, tapi juga titik temu antar-generasi pesilat.

Di saat sebagian orang melihat pencak silat sebagai olahraga semata, para pesilat di Madiun menjaganya sebagai jalan hidup.

Karena bagi mereka, menjadi pesilat bukan sekadar bisa bertarung.

Tapi, juga mampu mengalahkan ego dalam diri sendiri. (*)

*Penulis bekerja di Radar Madiun.

Editor : Deni Kurniawan
#tunas muda #suran agung #suro #psht #Cerita Silat #ikspi kera sakti #tradisi #pesilat #PSHW #jawa #madiun #Palagan Lawu Wilis #suroan #malam 1 suro