Jawa Pos Radar Madiun - Aroma nostalgia menyeruak dari halaman depan Masjid Nurhidayatulloh Kuncen atau yang dikenal sebagai Masjid Kuno Kuncen.
Deretan 10 lapak kuliner jadul tersaji rapi di area bazar Tempo Doeloe Kuncen, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Madiun (HJM) ke-107.
Mulai dari cenil, lupis, bubur campur, hingga nasi pecel godong jati, tak lupa hadir pula jamu tradisional, sate kere, sate jamur, dan grotol.
Semuanya mengundang selera dan menggugah kenangan masa lampau.
Wali Kota Madiun Maidi terlihat menikmati suasana bazar. Ia mengaku larut dalam kenangan masa kecilnya di era 1960-an.
’’Wah, rasanya enak pol! Makanan saya waktu kecil seperti ini,’’ ungkapnya, Kamis (19/6).
Maidi menyampaikan pentingnya melestarikan jajanan warisan leluhur agar tidak terkikis oleh budaya luar.
Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan makanan tradisional kepada generasi muda.
’’Jangan sampai makanan asing semua dimakan. Kita punya makanan zaman dulu yang tidak kalah hebat,’’ tegasnya.
Bazar ini tidak hanya sebagai pesta kuliner, namun juga menjadi ruang edukasi budaya dan sejarah.
Maidi berharap kegiatan seperti ini terus dilanjutkan, terutama saat momentum Grebeg Mauludan.
Dia berencana menjadikan Masjid Kuncen sebagai titik awal kirab budaya yang melibatkan partisipasi masyarakat luas.
’’Insya Allah akan kami kembangkan. Madiun boleh tua, tapi penampilannya harus tetap muda. Ekonomi harus bergerak, kota harus terus dicintai,’’ ujar Maidi. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto