Jawa Pos Radar Madiun – Persaingan penerimaan murid baru SMAN di Kota Madiun untuk jalur prestasi akademik berbasis nilai rapor begitu ketat.
Pasalnya, calon siswa dengan hasil nilai rapor tinggi belum tentu bisa keterima. Sebab, bobot nilai mereka dipengaruhi oleh indeks sekolah asal.
Kasi SMA/PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Madiun, Devi Yuniar, mengatakan seleksi jalur prestasi akademik bukan hanya mempertimbangkan nilai rapor semata.
Komponen penilaian terbagi menjadi dua, yakni 60 persen dari nilai rapor dan 40 persen dari indeks sekolah asal.
’’Setiap SMP atau MTs punya indeks masing-masing. Jadi bukan hanya angka rapor tinggi yang menentukan, tapi juga bagaimana kualitas sekolah asal,’’ terang Devi saat dikonfirmasi, kemarin (23/6).
Dia mencontohkan, jika seorang siswa punya rata-rata nilai rapor 95, namun sekolah asalnya hanya memiliki indeks 85, maka skor akhirnya tetap bisa turun karena dikalkulasi kombinatif. ’’Hasil (nilai) total tentu akan turun,’’ ucapnya.
Devi mengungkapkan, tahap kedua ini bersifat terbuka, artinya bukan hanya siswa dari Kota Madiun yang bisa mendaftar, tapi juga dari daerah-daerah perbatasan.
Kuota untuk jalur prestasi akademik sendiri dibatasi hanya 25 persen dari total daya tampung.
’’Tahun lalu skemanya masih ditambah akreditasi sekolah, tapi tahun ini akreditasi tidak lagi digunakan dalam penilaian,’’ katanya.
Pihaknya juga mengingatkan kepada calon peserta didik dan orang tua, agar tidak terlalu berkecil hati jika belum lolos di jalur prestasi.
Masih ada jalur domisili yang akan dibuka pada tahap ketiga, dengan kuota 35 persen.
Jalur ini secara khusus diperuntukkan bagi siswa yang berdomisili di Kota Madiun.
’’Untuk jalur domisili, prioritas utama tetap nilai akademik. Baru setelah itu mempertimbangkan jarak domisili,’’ jelasnya.
Satu hal yang menjadi perhatian petugas adalah masih banyak siswa yang hanya mengisi satu atau dua pilihan sekolah.
Padahal sistem memungkinkan hingga tiga pilihan, yang semestinya dimanfaatkan untuk memperbesar peluang diterima.
’’Nah, ini kesempatan terakhir masuk SMA negeri. Tolong dimaksimalkan tiga pilihannya agar peluang diterima lebih besar,’’ harap Devi. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto