Jawa Pos Radar Madiun – Penilaian tahap kedua program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) resmi digelar.
Sebanyak sepuluh sekolah di Kota Madiun dinilai langsung oleh tim juri, termasuk akademisi dari Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri.
Tim juri menyambangi sekolah-sekolah seperti SMPN 8, MTs Pertanian, SMPK Santo Yusuf, SMPN 1, SMPN 3, SMPN 13, SMPK Santo Bernardus, SMPN 9, MTs Siti Hajar, dan SMP Muhammadiyah.
Fokus penilaian kali ini berada pada fase pertumbuhan generatif tanaman, yang menjadi indikator kesiapan menuju penilaian akhir.
Nur Fitriyah, juri dari Uniska Kediri, menyebutkan bahwa sejumlah sekolah sudah menunjukkan progres menggembirakan.
Beberapa tanaman seperti cabai rawit, cabai besar, dan tomat telah memasuki fase generatif.
"Populasi tanaman seragam dan serangan hama minim. Namun, jarak tanam masih terlalu rapat, perlu diatur ulang untuk pertumbuhan optimal," ungkapnya.
Fitriyah juga menyoroti aspek nutrisi tanaman. Menurutnya, menjelang tahap final yang menitikberatkan pada hasil panen.
Penting bagi sekolah untuk meningkatkan pemberian nutrisi guna mencegah kerontokan daun dan mempercepat produktivitas.
Namun, tidak semua sekolah menunjukkan hasil serupa. Ada yang masih tertinggal dengan pertumbuhan lambat dan belum memasuki fase generatif.
"Masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan jika pola perawatan ditingkatkan," imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator SPI SMPN 13 Madiun, Fahmi Motik, menyampaikan strategi perawatan yang sudah rutin mereka terapkan.
Setiap hari, tim siswa bergiliran menyirami dan menyiangi tanaman, sementara pengukuran tinggi tanaman dilakukan tim khusus setiap Senin.
Total bibit awal yang ditanam mencapai 150—masing-masing 50 untuk tomat, cabai rawit, dan cabai besar.
“Karena beberapa bibit rusak, kami tambah lagi 100 bibit khusus cabai. Kami optimalkan agar produksi maksimal di akhir penilaian,” terang Fahmi. (err/den)
Editor : Hengky Ristanto