Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Kota Madiun Dilirik Uni Eropa untuk Produksi Beras Rendah Karbon

Anggiyan Bayu • Rabu, 2 Juli 2025 | 02:51 WIB
Delegasi kedubes negara-negara Uni Eropa melakukan kunjungan ke Kota Madiun terkait proyek produksi beras rendah karbon. FOTO: BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
Delegasi kedubes negara-negara Uni Eropa melakukan kunjungan ke Kota Madiun terkait proyek produksi beras rendah karbon. FOTO: BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Isu lingkungan menjadi bahasan antara Wali Kota Madiun Maidi ketika bersua dengan delegasi kedubes negara-negara Uni Eropa, Senin (30/6) malam lalu.

Mereka datang jauh-jauh dari benua biru untuk mendalami proyek SWITCH low carbon rice.

Executive Director Preferred by Nature, Peter Feilberg, menegaskan bahwa sawah padi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di sektor pertanian.

Bahkan, dia menyebut, skala emisi yang dilepaskan sebanding dengan emisi dari industri penerbangan.

’’Sepuluh tahun lalu kami mengadakan sebuah proyek. Kami terkejut bahwa efek rumah kaca yang dihasilkan sawah padi cukup tinggi,’’ ungkapnya.

Peter menyebut ada solusi konkret yang dapat diterapkan petani untuk menurunkan emisi karbon.

Antara lain, melalui teknik pembasahan dan pengeringan alternatif (AWD) yang mampu mengurangi produksi gas metana, mengurangi penggunaan pupuk kimia, serta menghindari pembajakan berlebihan agar karbon dalam tanah tidak lepas ke udara.

’’Menggunakan metode kami yakin bisa menekan efek rumah kaca. Ini cara terbaik dan perlu dilakukan,’’ ujarnya.

Dia juga mendorong pemerintah daerah (pemda) agar aktif mendorong petani bermigrasi ke pola produksi beras rendah karbon, dengan insentif dan jaminan pasar.

’’Pasar Eropa sangat mengedepankan komoditas hasil produksi hijau. Jika petani menerapkan ini, mereka tidak hanya menyelamatkan bumi, tapi juga masuk ke rantai pasok global,’’ terang Peter.

Sementara itu, Wali Kota Maidi menilai proyek ini selaras dengan program kota berkelanjutan.

Dengan luas 884 hektare sawah padi, dia optimistis Kota Madiun bisa menjadi pionir produksi beras rendah karbon di Indonesia.

’’Kami sudah melangkah dalam menurunkan emisi karbon. Insya Allah low carbon rice bisa diterapkan,’’ katanya.

Pemkot Madiun, lanjut Maidi, akan memfasilitasi kebutuhan petani untuk implementasi proyek tersebut.

Mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga menjamin keberlanjutan rantai pasok.

Dia juga menegaskan, migrasi ke sistem baru tidak boleh merugikan petani.

’’Petani tidak boleh rugi. Beras rendah karbon punya nilai jual lebih tinggi dan ke depan akan banyak dicari,’’ tandasnya. (ggi/her)

Editor : Hengky Ristanto
#Maidi #kota madiun #beras rendah karbon #SWITCH low carbon rice #uni eropa #Pemkot Madiun